Festival Kopi Nusantara ke-9 dan Tembakau Bondowoso Digelar 8 Hari, Hadirkan Juri dari Polandia dan Belanda

BONDOWOSO, ulas.co.id — Festival Kopi Nusantara ke-9 dan Tembakau Kabupaten Bondowoso Tahun 2026 resmi dibuka di kawasan Alun-Alun Raden Bagus Kironggo (RBA Kironggo), Jumat (28/8/2026). Festival yang mengangkat potensi kopi dan tembakau lokal tersebut akan berlangsung selama delapan hari, hingga 4 September 2026.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Bondowoso, Mulyadi, SP., MM., menyampaikan bahwa festival tersebut tidak hanya menjadi ajang promosi komoditas unggulan daerah, tetapi juga dirancang untuk memberikan dampak ekonomi bagi para pelaku UMKM.
“Festival Kopi Nusantara yang ke-9 dan Tembakau tahun 2026 ini akan dilaksanakan selama delapan hari, dimulai tanggal 28 Agustus dan akan berakhir tanggal 4 September,” ujar Mulyadi dalam sambutannya.
Menurutnya, rangkaian kegiatan festival akan semakin istimewa karena pada acara penutupan tanggal 4 September mendatang direncanakan turut dihadiri Menteri.
Festival tahun ini diikuti sekitar 22 pelaku usaha kopi dan tembakau. Peserta tidak hanya berasal dari Bondowoso, tetapi juga dari sejumlah daerah di luar Jawa, seperti Sumatera, Bandung, dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Untuk menjaga kualitas dan objektivitas kompetisi, panitia juga menghadirkan dewan juri dari luar negeri. Mulyadi menyebutkan, juri dari Polandia dan Belanda telah hadir dalam rangkaian kegiatan festival.
“Kita datangkan dewan juri dari Polandia dan juga dari Belanda. Semoga dalam pelaksanaan festival ini benar-benar profesional dan netral,” jelasnya.
Kompetisi Kopi, Tembakau hingga Band Pelajar
Mulyadi menjelaskan, Festival Kopi Nusantara ke-9 dan Tembakau tidak hanya berisi kompetisi komoditas kopi dan tembakau. Sejumlah kegiatan lain turut dikolaborasikan untuk menghidupkan suasana festival selama delapan hari.
Beberapa di antaranya adalah kompetisi tembakau halus dan kasar, kompetisi kopi, hingga penampilan band pelajar. Rangkaian hiburan juga akan digelar setiap malam selama festival berlangsung.
“Festival ini kita kolaborasikan untuk mengisi ruang dan waktu. Jadi bukan hanya semata-mata melaksanakan festival kopi dan tembakau, tetapi di dalamnya juga ada hiburan yang bisa meramaikan festival,” katanya.
Selain itu, festival juga bersinergi dengan berbagai kegiatan masyarakat yang berlangsung di sekitar kawasan Alun-Alun RBA Kironggo. Kehadiran berbagai komunitas dan pelaku UMKM diharapkan mampu meningkatkan aktivitas ekonomi selama festival berlangsung.
Mulyadi menyebutkan, terdapat sekitar 150 ribu kain dari tiga komunitas yang turut dilibatkan dalam rangkaian kegiatan tersebut. Para pelaku UMKM juga menyambut antusias pelaksanaan festival karena berpotensi meningkatkan penjualan.
Manfaatkan Momentum Kegiatan Besar
Pelaksanaan Festival Kopi Nusantara ke-9 dan Tembakau juga bertepatan dengan sejumlah kegiatan lain di Kabupaten Bondowoso. Salah satunya kegiatan kepramukaan yang berlangsung pada Jumat sore.
Para peserta Neght Run setelah mengikuti kegiatan tersebut dapat berkunjung ke kawasan festival, sehingga diharapkan memberikan tambahan konsumen bagi pelaku UMKM.
“Kebetulan pelaksanaan Festival Kopi Nusantara ini berbarengan dengan kegiatan Neght Run. Setelah acara, adik-adik Pramuka juga bisa berkunjung ke Rumah Jepang sehingga ada tambahan penjualan kepada para UMKM,” terang Mulyadi.
Selain itu, kegiatan olahraga yang berlangsung pada Sabtu juga diharapkan memberikan dampak positif terhadap penjualan UMKM serta produk-produk yang dipamerkan dalam Festival Kopi Nusantara.
Rangkaian acara juga akan dimeriahkan dengan perlombaan grup band pada 3 September yang dipusatkan di kawasan depan Pendopo Kabupaten Bondowoso.
Tampilkan Konsep Alami dan Potensi Lokal Bondowoso
Berbeda dengan pelaksanaan pada tahun-tahun sebelumnya, Festival Kopi Nusantara ke-9 dan Tembakau 2026 mengusung konsep yang lebih alami dengan memanfaatkan berbagai sumber daya alam yang dimiliki Kabupaten Bondowoso.
Mulyadi mengatakan, konsep tersebut sengaja dipilih untuk memperkuat karakter festival sekaligus memperkenalkan kekayaan alam Bondowoso kepada masyarakat luas.
“Pelaksanaan ini memang beda dengan tahun-tahun sebelumnya. Betul-betul alami, termasuk bagian depan ini. Jadi murni menggunakan sumber daya alam Kabupaten Bondowoso,” ungkapnya.
Konsep tersebut diharapkan mampu memberikan pengalaman berbeda kepada para pengunjung sekaligus memperkuat identitas Bondowoso sebagai daerah penghasil kopi dan tembakau berkualitas.
Kopi dan Tembakau Peserta Akan Dilelang
Salah satu agenda penting dalam festival tahun ini adalah pelaksanaan lelang kopi dan tembakau. Produk yang mengikuti festival nantinya tidak hanya dipamerkan atau dikompetisikan, tetapi juga memiliki peluang untuk dipasarkan melalui mekanisme lelang.
Mulyadi menjelaskan, para peserta akan menentukan produk kopi maupun tembakau yang akan dilelang. Dengan demikian, festival diharapkan menghasilkan output nyata bagi para pelaku usaha.
“Nantinya ada lelang tembakau dan ada lelang kopi. Dari semua peserta yang ikut, mereka juga akan menentukan apa yang akan dilelang sehingga jelas output dari pelaksanaan festival ini,” tuturnya.
Menurutnya, lelang tersebut menjadi salah satu upaya agar Festival Kopi Nusantara tidak berhenti pada kegiatan seremonial, melainkan mampu membuka akses pasar yang lebih luas.
“Jadi ada output yang memang positif, sehingga bukan hanya dikenal oleh masyarakat Bondowoso. Ada beberapa bagian juga dari luar provinsi yang akan datang mengikuti lelang tembakau dan kopi yang kita laksanakan,” pungkas Mulyadi.
Festival Kopi Nusantara ke-9 dan Tembakau 2026 diharapkan menjadi momentum memperkuat promosi komoditas unggulan Bondowoso, memperluas jaringan pemasaran, serta meningkatkan kesejahteraan petani dan pelaku UMKM melalui kegiatan ekonomi yang berkelanjutan. (Red)


