Dinkes Bondowoso Evaluasi P2P 2026, CKG Tembus 38 Persen dan Kasus HIV Menurun

Asisten I setda Bondowoso dan Kadinkes serta Kepala Puskesmas yang mendapatkan penghargaan (foto dok: Yusi Ulas.co.id)

BONDOWOSO, ulas.co.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bondowoso melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) sepanjang 2026. Evaluasi tersebut dilakukan untuk mengukur capaian program sekaligus memetakan sejumlah persoalan yang masih perlu diperkuat hingga akhir tahun.

Evaluasi menjadi agenda utama dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Bidang P2P Tahun 2026 yang digelar di Bondowoso, Rabu (16/9/2026).

BACA JUGA: Puskesmas Jambesari Raih Penghargaan Penemuan Penyakit Menular Sesuai Standar

Kegiatan tersebut mempertemukan jajaran Dinkes, kepala puskesmas, serta pengelola program untuk membahas perkembangan indikator kesehatan masyarakat.

Asisten I Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Bondowoso, Solikin, saat membuka kegiatan mengatakan, bidang P2P memiliki posisi strategis dalam pembangunan kesehatan daerah.

Menurutnya, P2P tidak hanya menangani berbagai penyakit menular dan tidak menular, tetapi juga mengampu enam dari 12 Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan.

Enam pelayanan tersebut meliputi pelayanan bagi terduga tuberkulosis (TB), penderita HIV, orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), diabetes melitus, hipertensi, serta kelompok usia produktif.

Solikin menegaskan, evaluasi melalui Rakor P2P penting dilakukan agar program yang telah berjalan dapat terus diperbaiki dan ditingkatkan.

“Kalau kita cermati, salah satu kendala yang masih dihadapi adalah adanya penolakan dari sebagian masyarakat terhadap beberapa program kesehatan. Karena itu, dibutuhkan kerja sama lintas program dan lintas sektor untuk menyelesaikannya,” ujar Solikin.

Ia menilai, keberhasilan program kesehatan tidak hanya bergantung pada Dinkes maupun puskesmas. Dukungan masyarakat dan koordinasi lintas sektor menjadi bagian penting dalam memastikan berbagai target pelayanan kesehatan dapat tercapai.

BACA JUGA: Tujuh Siswa Sman 2 Bondowoso Lolos Olimpiade Madrasah Indonesia 2026 Tingkat Kabupaten Siap Berjuang di Provinsi

Sementara itu, Kepala Dinkes Bondowoso dr. Moch Jasin mengatakan, Rakor P2P menjadi momentum untuk melihat capaian program secara menyeluruh. Evaluasi mencakup pengendalian penyakit menular, penyakit tidak menular, imunisasi, surveilans, hingga pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

“Rakor ini menjadi momentum untuk mengevaluasi program-program prioritas yang berkaitan dengan penyakit menular, penyakit tidak menular, sampai peningkatan cakupan imunisasi,” kata Jasin.

Dalam evaluasi tersebut, sejumlah indikator menunjukkan perkembangan positif. Pengendalian kasus demam berdarah dinilai lebih terkendali dibandingkan tahun sebelumnya.

Begitu pula dengan kasus leptospirosis. Hingga saat ini, Dinkes Bondowoso mencatat tujuh kasus leptospirosis. Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator yang dibahas dalam evaluasi pengendalian penyakit menular.

Jasin mengatakan, capaian tersebut tidak terlepas dari edukasi kepada masyarakat serta berbagai langkah pengendalian yang dilakukan tenaga kesehatan. Meski demikian, pengawasan dan pencegahan tetap harus diperkuat untuk mengantisipasi munculnya kasus baru.

Perkembangan positif juga terlihat dalam penemuan kasus HIV. Hingga Agustus 2026, sebanyak 69 kasus ditemukan. Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai lebih dari 150 kasus positif yang ditemukan.

Selain penyakit menular, Dinkes juga mengevaluasi program penyakit tidak menular. Salah satu yang menjadi perhatian adalah pelaksanaan CKG yang terus menunjukkan peningkatan.

Saat ini, cakupan CKG telah mencapai 38 persen dari target total 46 persen. Jasin menyebut peningkatan tersebut salah satunya didorong strategi pelayanan di luar gedung dengan mendekatkan pemeriksaan kepada masyarakat.

“Upaya memberikan pelayanan di luar gedung memberikan hasil yang luar biasa. Sebelum kita bergerak, capaian Cek Kesehatan Gratis berada di angka 20 persen. Sekarang sudah mencapai 38 persen dari target total 46 persen,” ujarnya.

Dari hasil CKG, sejumlah masalah kesehatan yang banyak ditemukan di masyarakat antara lain hipertensi, diabetes melitus, dan kolesterol tinggi. Temuan tersebut kemudian menjadi dasar bagi tenaga kesehatan untuk memberikan intervensi dan pelayanan lanjutan.

Namun, di tengah sejumlah capaian tersebut, peningkatan cakupan imunisasi masih menjadi pekerjaan rumah. Dinkes menilai penguatan imunisasi penting untuk mencegah munculnya kembali penyakit yang sebenarnya dapat dicegah melalui imunisasi.

Jasin menekankan bahwa penguatan program P2P membutuhkan konsistensi pelaksanaan di tingkat puskesmas serta dukungan masyarakat. Edukasi juga menjadi bagian penting, khususnya dalam menjawab kekhawatiran masyarakat terhadap program kesehatan.

“Imunisasi telah melalui proses penelitian yang panjang. Kalau ada demam setelah imunisasi, itu merupakan reaksi yang umum terjadi dan tenaga kesehatan juga sudah menyiapkan langkah penanganannya,” terangnya.

Melalui Rakor P2P 2026, Dinkes Bondowoso berharap evaluasi yang dilakukan tidak sekadar memetakan capaian, tetapi menjadi dasar untuk memperbaiki pelaksanaan program hingga akhir tahun.

Penguatan koordinasi lintas program dan lintas sektor diharapkan mampu mendorong pencapaian target pelayanan kesehatan sekaligus memastikan berbagai program P2P dapat dirasakan manfaatnya secara lebih luas oleh masyarakat Bondowoso. (Red)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *