Bupati Hamid Wahid dan PLT Kepala BPBD Bondowoso Pimpin Apel Kesiapsiagaan Bencana

Bupati bondowoso bersama plt kepala BPBD dan Kapolred, Dandim 0822 serta kepala OPD dan camat saat gelar apel kesiapsiagaan (foto dok: Yudi Ulas.co.id) 

Bondowoso, Ulas.co.id – Menghadapi musim hujan yang diperkirakan mulai pada pekan ketiga Oktober, Pemerintah Kabupaten Bondowoso meningkatkan kesiapsiagaan bencana dengan memperkuat koordinasi lintas sektor. Melalui forum koordinasi yang melibatkan unsur pemerintah daerah, TNI/Polri, media, dan relawan. Jumat (17/10/2025) bertempat di Alun – alun RBA.

Bupati Bondowoso KH. Abd Hamid Wahid menegaskan pentingnya sinergi dalam mengantisipasi bencana hidrometeorologi yang kerap terjadi di wilayahnya.

“Bencana adalah urusan bersama. Kami mengundang semua pihak, termasuk media, karena kelima unsur ini akan bersama-sama dalam menghadapi bencana,” ujar Bupati Hamid

Fokus pada Mitigasi dan Edukasi

Kabupaten Bondowoso memiliki potensi bencana yang cukup kompleks, mulai dari banjir, tanah longsor, angin kencang, hingga kekeringan. Oleh karena itu, fokus utama diarahkan pada upaya mitigasi dan pencegahan berbasis komunitas.

“Risiko bencana bisa kita kurangi jika kita siap menghadapinya. Edukasi kepada masyarakat, menjaga kebersihan saluran air, tidak membuang sampah sembarangan, serta koordinasi dengan pihak irigasi dan dinas teknis menjadi langkah penting dalam pencegahan,” jelasnya.

Langkah-langkah ini sejalan dengan arahan BMKG dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dalam menghadapi dinamika cuaca ekstrem di akhir tahun.

Zona Rawan Bencana Diwaspadai

Berdasarkan peta kajian risiko bencana, beberapa kecamatan tercatat sebagai wilayah paling rawan, antara lain Maesan, Sukosari, wilayah Tenggarang Kecamatan Bondowoso, Tapen, Kelabang, dan Cermee.

“Untuk banjir, kami masih mewaspadai kawasan kota akibat drainase yang tersumbat. Sementara untuk daerah luar kota, fokus utama kami adalah kawasan Ijen. Di sana, kami sudah memasang alat deteksi dini karena termasuk zona prioritas,” tambahnya.

Pembentukan Destana dan Penguatan Kapasitas Masyarakat

Sebagai bagian dari strategi pengurangan risiko bencana, Pemerintah Kabupaten Bondowoso telah membentuk 11 Desa Tangguh Bencana (Destana) yang melibatkan pelajar dari tingkat SD hingga SMP. Edukasi kebencanaan juga diberikan secara aktif kepada masyarakat, termasuk sosialisasi menghadapi potensi gempa.

“Edukasi penting agar masyarakat tahu cara evakuasi saat keadaan darurat. Kami sarankan agar dokumen penting disiapkan dalam satu tas khusus, sehingga dapat dibawa dengan cepat saat terjadi bencana,” imbaunya.

Meskipun menghadapi tantangan pemotongan anggaran tahun 2026, pemerintah daerah tetap berkomitmen menjaga Indeks Ketahanan Daerah (IKD) melalui berbagai program prioritas.

“Indikator penting seperti pembentukan Destana dan penyusunan dokumen perencanaan akan tetap diupayakan. Jika tidak teranggarkan di APBD, kami akan mendorong optimalisasi Dana Desa yang memang sudah dialokasikan untuk penanganan bencana,” tegasnya.

Sementara itu, PLT Kepala BPBD (Kalaksa) Bondowoso, Kristianto Putro Prasojo, menguraikan kondisi terkini ketersediaan sarana-prasarana dan kesiapan personel BPBD sebagai garis depan respons kebencanaan. Ia menyebut bahwa apel ini juga menjadi momen evaluasi kesiapan alat, suplai logistik darurat, kesiapan posko pengungsian, dan jalur evakuasi.

“Kita sudah melakukan pengecekan menyeluruh terhadap alat-alat seperti tenda pengungsian, kendaraan operasional, alat komunikasi, serta perlengkapan medis. Apel ini untuk memastikan semua dalam kondisi siap pakai,” ungkapnya.

Ia menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor, mulai dari instansi pemerintah hingga relawan dan masyarakat.

Pemerintah Kabupaten Bondowoso berharap, melalui koordinasi yang solid dan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat, dampak bencana yang mungkin terjadi di musim hujan ini dapat diminimalisir secara maksimal. (Yus)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *