Doa Bersama di Alun-Alun Bondowoso, Jurnalis Panjatkan Harapan untuk Rekan yang Hilang di Anak Krakatau

BONDOWOSO, ulas.co.id – Suasana haru menyelimuti Paseban Alun-Alun Bondowoso, Minggu (13/9/2026). Belasan jurnalis dari berbagai organisasi dan asosiasi pers di Kabupaten Bondowoso berkumpul dalam aksi solidaritas dan doa bersama untuk delapan orang yang hilang kontak saat melakukan perjalanan menuju kawasan Gunung Anak Krakatau.
Aksi tersebut digelar Forum Solidaritas Jurnalis Bondowoso (FSJB) sebagai bentuk kepedulian dan dukungan moral terhadap lima jurnalis bersama tiga kru kapal yang hingga kini menjadi bagian dari operasi pencarian oleh tim SAR gabungan.
Di tengah suasana penuh keprihatinan, para jurnalis menundukkan kepala dan memanjatkan doa. Satu harapan yang menyatukan mereka, yakni agar seluruh korban yang masih dalam pencarian segera ditemukan.
BACA JUGA: Tim II Itjen Kemhan Tinjau Progres Pembangunan Mako Brigif Pp 28 Bari Fola di Halmahera Timur
Sekretaris Aliansi Jurnalis Independen Bondowoso (AJIB), Mohammad Haddat, mengatakan aksi solidaritas tersebut merupakan bentuk kepedulian sesama insan pers terhadap rekan-rekan mereka yang tengah menghadapi musibah.
Menurutnya, peristiwa tersebut juga menjadi pengingat penting bagi seluruh jurnalis bahwa tugas mencari dan menyampaikan informasi kepada masyarakat tidak boleh mengesampingkan keselamatan.
Jurnalis memiliki tanggung jawab besar dalam menyampaikan informasi. Namun, kata Haddat, tidak ada tugas jurnalistik yang nilainya melebihi keselamatan dan nyawa manusia.
“Semoga gerakan solidaritas doa bersama ini menjadi penanda bahwa tugas dan fungsi jurnalis tidak ada yang seharga nyawa,” ujar Mohammad Haddat.
Ia berharap doa dan dukungan yang dipanjatkan dari Bondowoso dapat menjadi kekuatan bagi seluruh pihak yang tengah melakukan pencarian, termasuk keluarga para korban yang kini menunggu kabar dengan penuh harap.
Dalam doa bersama tersebut, para jurnalis memohon agar korban yang masih belum ditemukan segera diketahui keberadaannya.
“Suara kami menyatu dalam doa, agar engkau segera ditemukan dalam kondisi sehat wal afiat. Aamiin,” lanjutnya.
Berawal dari Peliputan Aktivitas Gunung Anak Krakatau
Sebelumnya, delapan orang dilaporkan hilang kontak setelah berangkat menggunakan speedboat dari Dermaga Pagedogan, Carita, Banten, pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB.
BACA JUGA: Bapenda Bondowoso Dorong Optimalisasi Pbjt Slamet Yantoko Pajak Daerah Untuk Perkuat Pembangunan
Apresiasi Bapenda Bondowoso Ketua Komisi II Dprd H Tohari Dorong Seluruh Hotel Pasang Alat Monitoring Pajak
Phri Bondowoso Vakum Tiga Tahun Pemkab Fasilitasi Hotel dan Resto Bentuk Kepengurusan Baru
Rombongan tersebut diketahui hendak melakukan perjalanan untuk meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Komunikasi terakhir dengan salah seorang jurnalis asal Lampung bernama Abai tercatat sekitar pukul 14.42 WIB pada hari yang sama. Setelah komunikasi tersebut, keberadaan rombongan tidak lagi diketahui.
Delapan orang yang berada di dalam kapal terdiri atas lima jurnalis, seorang kapten kapal, seorang anak buah kapal (ABK), serta seorang pemandu atau guide.
Mereka yakni Warta (55) selaku kapten kapal, Surakman (60) sebagai ABK, Heriyanto (49) sebagai guide, serta lima jurnalis, yakni M. Bagus Khoirunnas dari Antara, Ari Basuki dari Merdeka, Yudhis dari iNews, Daus dari Anadolu, dan Donal yang merupakan jurnalis lepas.
Operasi Pencarian Terus Dilakukan
Informasi mengenai hilangnya rombongan tersebut kemudian diterima Kantor SAR Banten pada Selasa (8/9/2026) sekitar pukul 13.55 WIB dari Bayu, jurnalis Antara Banten.
Basarnas selanjutnya mengerahkan KN SAR Tetuka bersama satu unit RIB 02 untuk melakukan pencarian di lokasi yang diperkirakan menjadi titik terakhir hilangnya komunikasi.
Pada tahap awal, pencarian dilakukan dalam radius sekitar 3,2 kilometer dari kawasan Gunung Anak Krakatau. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil.
Operasi kemudian diperluas pada Rabu (9/9/2026). Tim SAR gabungan membagi area pencarian seluas sekitar 68,3 nautical mile ke dalam empat sektor.
Hingga Minggu (13/9/2026), operasi pencarian masih terus dilakukan untuk menemukan seluruh korban.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, dalam rangkaian operasi pencarian tersebut tim SAR gabungan telah menemukan tiga jenazah.
Meski demikian, harapan agar korban lainnya segera ditemukan terus dipanjatkan oleh keluarga, rekan seprofesi, dan seluruh pihak yang mengikuti perkembangan pencarian.
Solidaritas dari Bondowoso
Bagi jurnalis Bondowoso, aksi doa bersama tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial. Solidaritas yang ditunjukkan menjadi bentuk ikatan kemanusiaan dan persaudaraan sesama insan pers.
Delapan orang yang menjadi bagian dari operasi pencarian bukan hanya nama dalam daftar korban. Mereka adalah rekan seprofesi, sahabat, sekaligus bagian dari keluarga besar pers Indonesia.
Dari Paseban Alun-Alun Bondowoso, para jurnalis menyampaikan satu pesan sederhana namun penuh makna: keselamatan manusia harus selalu berada di atas tugas dan profesi.
Doa pun terus dipanjatkan agar seluruh korban yang masih dalam pencarian segera ditemukan, sementara keluarga yang menunggu diberikan kekuatan dan ketabahan.
“Tidak ada berita yang seharga nyawa.”
Semoga seluruh korban segera ditemukan. (Red)


