Festival Kopi Nusantara ke- 9 Ditutup, Mulyadi Dorong Limbah Kopi Jadi Berkah dan Penggerak Ekonomi Bondowoso

Kolaborasi forkopimda perpaduan antara musik reggae dan pertunjukan kultural khas Bondowoso berjalan sangat meriah (foto dok: Yusi Ulas.co.id)
BONDOWOSO, ulas.co.id — Festival Kopi Nusantara ke- 9 dan Tembakau 2026 resmi menutup seluruh rangkaian kegiatan setelah berlangsung selama delapan hari, 28 Agustus hingga 4 September 2026.
Penutupan festival berlangsung meriah dengan perpaduan musik reggae dan pertunjukan kultural khas Bondowoso, yang semakin menguatkan suasana kebersamaan sekaligus menjadi gambaran bahwa kopi dan tembakau tidak hanya berkaitan dengan sektor pertanian, tetapi juga dapat bersinergi dengan seni, budaya, ekonomi kreatif dan pariwisata.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Bondowoso, Mulyadi, dalam sambutannya mengatakan, festival tersebut sejak awal diarahkan bukan sekadar sebagai ajang perayaan, melainkan menjadi ruang promosi, kompetisi, kreativitas, inovasi dan pengembangan potensi kopi serta tembakau Bondowoso.
Menurutnya, selama delapan hari pelaksanaan, festival telah mempertemukan berbagai unsur, mulai dari petani, pelaku usaha, komunitas, generasi muda, insan kreatif, pemerintah, akademisi, juri hingga jaringan kopi dari berbagai daerah bahkan luar negeri.
“Festival ini bukan hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga telah menjadi ruang pertemuan antara petani, pelaku usaha, komunitas, generasi muda, insan kreatif, pemerintah, akademisi, juri, serta jaringan kopi dari berbagai daerah bahkan dari luar negeri,” kata Mulyadi saat penutupan Festival Kopi Nusantara #9 dan Tembakau 2026, Jumat (4/9/2026).
BACA JUGA: Ketua Dprd Bondowoso Dorong Percepatan Pembahasan Apbd Jangan Sampai Program Pemerintah Jadi Silpa
Beragam kompetisi turut menjadi bagian penting dalam festival. Di antaranya Competition Rajang Tembakau Halus dan Kasar, yang memperlihatkan keterampilan, ketelitian dan pengalaman para pelaku dalam menghasilkan rajangan tembakau berkualitas.
Kemudian Competition Manual Brew, yang menunjukkan bahwa kopi tidak hanya berbicara tentang hasil produksi, tetapi juga menyangkut teknik, keterampilan, kreativitas dan kemampuan menampilkan karakter terbaik kopi.
Festival juga memberikan ruang kepada generasi muda melalui Competition Band Pelajar dan Tari Molong Kopi.
Mulyadi menilai, keterlibatan generasi muda sangat penting karena masa depan kopi dan tembakau Bondowoso tidak hanya ditentukan oleh generasi saat ini, tetapi juga oleh anak-anak muda yang akan melanjutkan pengembangan komoditas unggulan daerah.
Selain kompetisi, Diskusi Senja Tembakau dan Diskusi Senja Kopi menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai berbagai tantangan dan peluang, mulai dari peningkatan kualitas, pengembangan agribisnis, hilirisasi, pemasaran hingga masa depan petani kopi dan tembakau.
Sementara lelang kopi dan tembakau, pertunjukan seni dan musik serta berbagai kegiatan kreatif lainnya semakin memperluas ruang promosi sekaligus mempertemukan produk lokal dengan konsumen dan jaringan usaha.
Limbah Kopi Jadi Berkah
Salah satu bagian yang mendapat perhatian khusus Mulyadi adalah Competition Inovasi Limbah Kopi.
Menurutnya, kompetisi tersebut memberikan pelajaran penting bahwa limbah kopi bukan berarti akhir dari sebuah proses produksi. Justru dari limbah tersebut dapat lahir berbagai produk baru yang memiliki nilai tambah.
Sejumlah inovasi yang ditampilkan antara lain bio-pot organik, pemanfaatan limbah kulit cangkang kopi sebagai bahan pembuatan alat seduh kopi berbasis keramik berpori, hingga inovasi bioleather atau bioplastik dari limbah kulit kopi.
Selain itu, kulit cherry kopi juga dikembangkan menjadi bio-colouring untuk pembuatan lip balm dan skincare. Inovasi tersebut menunjukkan bahwa potensi kopi dapat dikembangkan lebih jauh hingga memasuki sektor kosmetik dan industri kreatif.
Ada pula inovasi Wine Cascara, yang mengolah kulit kopi menjadi produk minuman bernilai tambah.
Berbagai inovasi lainnya meliputi POC kulit kopi, pupuk bokashi, pengolahan kulit kopi menjadi kompos bernilai tambah, serta inovasi kriya fashion dengan memanfaatkan ampas kopi sebagai pewarna alam.
“Dari sesuatu yang selama ini dianggap sebagai limbah, ternyata dapat lahir sebuah berkah,” tegas Mulyadi.
BACA JUGA: Bupati Bondowoso Tekankan Sinergi Eksekutif Legislatif Dalam Pembahasan Kua Ppas 2026 dan 2027
Ia menegaskan, inovasi tersebut bukan sekadar persoalan kreativitas. Lebih jauh, hal itu merupakan bagian dari upaya membangun ekonomi sirkular, mengurangi limbah, menjaga lingkungan sekaligus menciptakan nilai tambah bagi masyarakat.
Mulyadi menilai pola pertanian ke depan tidak boleh berhenti pada konsep tanam, panen, jual.
Komoditas pertanian harus terus dikembangkan melalui proses pengolahan, inovasi, pengemasan dan pemasaran agar menghasilkan rantai nilai yang lebih panjang.
“Kita tidak ingin pertanian berhenti pada pola tanam, panen, jual. Tetapi harus bergerak menciptakan nilai tambah. Satu komoditas harus bisa diolah, diinovasi, dikemas, dipasarkan dan menghasilkan sumber pendapatan serta peluang ekonomi yang lebih luas,” ujarnya.
Semangat tersebut, kata Mulyadi, menjadi bagian dari arah hilirisasi pertanian di Kabupaten Bondowoso.
Tidak hanya kopi, pemerintah daerah juga ingin tembakau Bondowoso semakin dikenal bukan hanya karena produksinya, tetapi juga karena kualitas, keterampilan petani, daya saing dan nilai ekonominya.
Festival Berpotensi Gerakkan Rp1,96 Miliar
Selain mendorong inovasi, Festival Kopi Nusantara #9 dan Tembakau 2026 juga dinilai memberikan dampak terhadap pergerakan ekonomi masyarakat.
Selama festival, terdapat sekitar 20 booth kopi yang berpartisipasi. Dengan asumsi rata-rata transaksi Rp1 juta per booth per hari selama delapan hari, potensi perputaran transaksi dari booth kopi diperkirakan mencapai Rp160 juta.
Sementara keterlibatan sekitar 150 UMKM per hari selama delapan hari, dengan asumsi rata-rata transaksi Rp1,5 juta per booth per hari, menghasilkan potensi perputaran transaksi sekitar Rp1,8 miliar.
Dengan demikian, dari dua komponen tersebut saja, yakni booth kopi dan UMKM, terdapat potensi perputaran ekonomi sekitar Rp1,96 miliar selama pelaksanaan festival.
Mulyadi menegaskan, angka tersebut bukan sekadar persoalan transaksi, tetapi menunjukkan bahwa festival dapat menjadi ruang bertemunya produk lokal, konsumen dan pelaku usaha.
“Hal ini menjadi bukti bahwa pengembangan komoditas kopi dan tembakau tidak hanya memberikan manfaat bagi sektor pertanian, tetapi juga dapat menggerakkan perdagangan, UMKM, ekonomi kreatif, kuliner, pariwisata dan berbagai usaha pendukung lainnya,” jelasnya.
Ke depan, Pemerintah Kabupaten Bondowoso berharap festival serupa tidak hanya semakin meriah, tetapi juga mampu memberikan dampak ekonomi yang semakin nyata dan luas bagi masyarakat.
Apresiasi untuk Seluruh Pihak
Pada kesempatan tersebut, Mulyadi atas nama Pemerintah Kabupaten Bondowoso, khususnya Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan Festival Kopi Nusantara ke- 9 dan Tembakau 2026.
Ucapan terima kasih disampaikan kepada Bupati dan Wakil Bupati Bondowoso, pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, pemerintah kabupaten/kota, Forkopimda, seluruh perangkat daerah, narasumber, para juri, peserta, petani, pelaku usaha, komunitas kopi dan tembakau serta seluruh masyarakat Bondowoso.
Apresiasi juga diberikan kepada seluruh panitia dan pihak yang telah bekerja keras sehingga rangkaian kegiatan selama delapan hari dapat berlangsung dengan baik.
Penutupan festival yang diwarnai musik reggae dan pertunjukan kultural Bondowoso sekaligus menjadi penanda bahwa perjalanan pengembangan kopi dan tembakau daerah tidak berhenti pada festival.
Semangat tersebut diharapkan terus berlanjut melalui peningkatan kualitas, inovasi, hilirisasi dan penguatan ekonomi masyarakat.
Mulyadi pun menutup sambutannya dengan semangat bersama:
“Kopi Bondowoso, Kopi Kita, Kopi untuk Indonesia. Bondowoso Berkah, Petani Sejahtera, Pertanian Maju.” (Red)


