Perempuan Wonosuko Bangkit Lewat Dapur MBG: Dari Dapur Rumah ke Dapur Harapan Bangsa

Bapak dan ibu warga desa Wonosuko saat persiapkan makanan bergizi gratis (foto dok: istimewa)

Bondowoso, Ulas.co.id – Di balik aroma masakan yang mengepul dari dapur SPPG Desa Wonosuko, Kecamatan Tamanan, ada semangat baru yang tengah tumbuh di antara para perempuan desa. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto tak hanya menghadirkan makanan sehat bagi anak-anak sekolah, tetapi juga membuka ruang pemberdayaan bagi kaum ibu dan perempuan lokal. Selasa (14/10/2025).

Salah satunya adalah Siti Rohmah, seorang ibu rumah tangga yang sebelumnya hanya mengandalkan pendapatan suami yang tidak menentu.

“Dulu saya hanya di rumah, kadang bantu tetangga jualan. Sekarang saya ikut masak di dapur MBG, ada penghasilan tiap bulan. Alhamdulillah bisa bantu suami, anak-anak juga bangga,” ujarnya sambil tersenyum.

Program MBG di Desa Wonosuko dikelola dengan sistem profesional melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Di sini, para perempuan berperan penting sebagai juru masak, pencuci ompreng, dan petugas distribusi. Selain mendapatkan penghasilan, mereka juga mengikuti pelatihan soal kebersihan, keamanan pangan, hingga manajemen dapur.

Menurut Aisyatul Fitriah, Owner pengelola SPPG sekaligus tokoh perempuan muda di desa tersebut, program ini memberi ruang aktualisasi bagi perempuan desa.

“Banyak ibu-ibu yang dulu merasa tidak punya keahlian, minder, atau tidak percaya diri. Tapi ketika mereka dilibatkan dalam MBG, ternyata mereka bisa, bahkan sangat telaten dan penuh tanggung jawab,” jelasnya.

Tak hanya itu, Fitri sapaannya, juga menyebut keterlibatan perempuan menjadikan suasana dapur lebih rapi, teratur, dan penuh kehangatan. “Ini dapur yang bukan hanya memasak, tapi juga membesarkan harapan,” tambahnya.

Program MBG, Pintu Pemberdayaan Perempuan di Desa

Program MBG bukan hanya soal nutrisi, tetapi juga membuka peluang pemberdayaan dan peningkatan ekonomi keluarga, terutama bagi perempuan. Lewat dapur-dapur desa seperti di Wonosuko, para ibu rumah tangga kini punya peran baru: pahlawan gizi dan ekonomi lokal.

“Dapur ini milik kita semua. Tapi lebih dari itu, dapur ini juga masa depan anak-anak kita,” ujar Aisyatul Fitriah.

Program ini juga berdampak langsung pada anak-anak dan keluarga. Dengan adanya makan siang gratis di sekolah, para ibu kini tidak lagi repot menyiapkan bekal setiap pagi, dan bisa lebih fokus membantu dapur MBG atau kegiatan rumah tangga lainnya.

Toha, salah satu wali murid, menyebut program ini sebagai “berkah nyata” bagi warga kecil.

“Sekarang istri saya bisa bantu dapur MBG, anak saya dapat makan bergizi di sekolah. Dua-duanya dapat manfaat. Ini program yang menyentuh semua lapisan, tidak pandang bulu,” tutupnya. (Yus)

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *