Perluas Pasar Kopi Bondowoso ke Eropa, dan Swiss, Program Inklusi Ekonomi Bidik 2.000 Petani

BONDOWOSO, ulas.co.id – Upaya memperluas pasar kopi Kabupaten Bondowoso terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor. Program inklusi ekonomi yang melibatkan International Labour Organization (ILO), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Pemerintah Kabupaten Bondowoso, serta mitra lainnya diarahkan untuk meningkatkan pendapatan petani dan pekerja di sepanjang rantai nilai industri kopi. Kamis (22/12/26) di Pendopo Bupati.
Salah satu fokus utama program tersebut adalah membuka akses pasar yang lebih luas, termasuk menjajaki peluang pemasaran kopi Bondowoso ke pasar Eropa da Swiss. Langkah ini diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih besar, tidak hanya bagi petani sebagai produsen, tetapi juga bagi para pekerja dan pelaku usaha di sektor hilir.
Dalam pelaksanaannya, Yousra Hamed menjelaskan ILO akan bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk mitra SIVO yang direncanakan membantu mempromosikan kopi Bondowoso agar semakin dikenal di pasar Eropa dan Swiss.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat daya saing kopi lokal sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan daerah. Dengan akses pasar yang semakin terbuka, petani dan pekerja di sektor pengolahan maupun perdagangan kopi diharapkan memperoleh peluang peningkatan pendapatan secara berkelanjutan.
“Yang pertama adalah memperluas pasar. Pada akhirnya, upaya ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan, khususnya di sektor kopi. Bukan hanya petani, tetapi juga pekerja di tingkat hilir,” ujar Yousra Hamed dalam penjelasan dan pemaparan program tersebut.
Perkuat Dua Ekosistem Kopi
Untuk mendukung target tersebut, pengembangan program akan dilakukan melalui penguatan dua ekosistem kopi di Kabupaten Bondowoso.
Ekosistem pertama berada di kawasan Ijen, yang selama ini menjadi salah satu sentra produksi kopi Bondowoso. Ekosistem kedua akan diperkuat Argopuro, melalui jaringan yang melibatkan kelompok petani di wilayah tersebut.
Kedua ekosistem ini diharapkan menjadi fondasi pengembangan rantai nilai kopi yang lebih terintegrasi, mulai dari produksi, peningkatan kualitas, pengolahan, hingga perluasan pemasaran.
Secara keseluruhan, program tersebut menargetkan sekitar 2.000 petani sebagai penerima manfaat pada tahap awal. Pelibatan petani dalam ekosistem yang terorganisasi diharapkan memudahkan penguatan kapasitas, peningkatan kualitas hasil panen, serta akses terhadap pasar yang lebih luas.
Selain melibatkan petani dan pelaku usaha, pengembangan ekosistem kopi juga diharapkan dapat membuka ruang kolaborasi dengan badan usaha milik daerah (BUMD), termasuk Bondowoso Gemilang, apabila kembali aktif menjalankan perannya.
Kolaborasi Jadi Kunci Peningkatan Pendapatan
Pengembangan kopi Bondowoso melalui program inklusi ekonomi ini menempatkan kerja sama antar pemangku kepentingan sebagai faktor penting. Dukungan ILO, OJK, pemerintah daerah, mitra pemasaran, serta pelaku usaha diharapkan mampu membangun ekosistem yang saling terhubung.
Perluasan pasar menjadi langkah awal, tetapi keberhasilan program juga ditentukan oleh kemampuan meningkatkan kualitas produk, memperkuat rantai pasok, dan memastikan manfaat ekonomi dapat dirasakan oleh petani maupun pekerja di sektor hilir.
Dengan target awal sekitar 2.000 petani dan peluang pemasaran hingga Eropa, program ini diharapkan menjadi salah satu upaya memperkuat posisi kopi Bondowoso di pasar yang lebih luas sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor tersebut.
BACA JUGA: Wakil Bupati Situbondo Ulfiyah Ajak Ppp Bondowoso Bersatu Perkuat Konsolidasi Hingga Akar Rumput
Sementara itu, apabila BUMD Bondowoso Gemilang kembali beroperasi, keterlibatannya dalam pengembangan ekosistem kopi akan menjadi ranah kebijakan Pemerintah Kabupaten Bondowoso sesuai kewenangan yang dimiliki.
Penulis: Redaksi


