Disparbudpora Bondowoso Siap Genjot Kinerja 2026, Fokus Tingkatkan PAD dan Digitalisasi Pembayaran Wisata

Kadisparbudpora Bondowoso Gede Budi Setiawan saat usai Raker bersama DPRD setempat (foto dok: Yudi Ulas.co.id)
Bondowoso, ulas.co.id – Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Bondowoso berkomitmen mempertahankan bahkan meningkatkan kinerja pada tahun 2026 meski dihadapkan pada keterbatasan anggaran. Salah satu fokus utama yang akan diperkuat adalah peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata melalui optimalisasi pembayaran digital.
Kepala Disparbudpora Bondowoso, Gede Budi Setiawan, mengatakan apresiasi yang disampaikan DPRD terhadap capaian kinerja tahun 2025 menjadi motivasi bagi jajarannya untuk bekerja lebih maksimal pada tahun berikutnya.
“Yang menjadi perhatian adalah bagaimana di tahun 2026 kami tetap mampu menjalankan program-program meskipun anggaran terbatas. Kegiatan-kegiatan yang sudah berjalan pada semester pertama akan kami upayakan tetap berlanjut, termasuk kegiatan bersama komunitas yang mendapat respons positif dari masyarakat,” ujar Gede usai pembahasan bersama DPRD Bondowoso, Kamis (9/7/2026).
Ia menjelaskan, realisasi anggaran tahun 2025 mencapai sekitar 93,7 persen. Sisa anggaran yang belum terserap sebagian besar berasal dari belanja pegawai, seperti gaji dan tunjangan, karena masih terdapat sejumlah formasi jabatan yang belum terisi.
“Belanja pegawai memang harus tetap dianggarkan, termasuk untuk gaji ke-13, gaji ke-14 dan tunjangan. Sementara di beberapa bidang masih ada jabatan yang kosong sehingga anggaran tersebut tidak seluruhnya terserap,” jelasnya.
Di sisi lain, Disparbudpora juga terus berupaya meningkatkan PAD dari sektor pariwisata. Hingga semester pertama 2026, capaian pendapatan menunjukkan perkembangan yang cukup baik dan akan terus digenjot pada semester berikutnya.
Menurut Gede, salah satu strategi yang dilakukan adalah memperluas penggunaan sistem pembayaran digital melalui QRIS dan Electronic Data Capture (EDC) di destinasi wisata.
“Penggunaan QRIS dan EDC terus kami dorong. Tujuannya agar transaksi non-tunai semakin meningkat, penyetoran pendapatan lebih mudah tercatat, sekaligus meminimalkan potensi kebocoran di lapangan,” katanya.
Disparbudpora juga menggandeng Bank Jatim untuk memberikan berbagai bentuk promosi dan insentif kepada masyarakat agar semakin tertarik menggunakan metode pembayaran digital saat berkunjung ke objek wisata.
“Kami sudah berkoordinasi dengan Bank Jatim untuk memberikan reward atau program promosi bagi pengguna QRIS. Harapannya masyarakat semakin terbiasa bertransaksi secara digital saat berwisata,” ujarnya.
Meski tingkat penggunaan pembayaran digital saat ini masih berada di bawah 20 persen, Gede optimistis angka tersebut akan terus meningkat seiring semakin masifnya edukasi kepada masyarakat.
Selain digitalisasi transaksi, Disparbudpora juga akan terus meningkatkan daya tarik destinasi wisata agar menjadi pilihan utama masyarakat, khususnya warga Bondowoso.
“Harapan kami, tempat-tempat wisata di Bondowoso semakin diminati masyarakat. Dengan meningkatnya jumlah kunjungan dan transaksi digital, PAD dari sektor pariwisata juga diharapkan terus mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya,” pungkasnya.
Penulis: Redaksi


