OJK dan ILO Dorong Revitalisasi Kopi Bondowoso, Pemkab Siapkan Redesign Kebijakan Ekosistem Hulu-Hilir

Bupati Bondowoso bersama OJK dan ILO saat rapat dan saat di konfirmasi beberapa media (foto dok: Ulas.co.id)
BONDOWOSO, ulas.co.id – Pemerintah Kabupaten Bondowoso mulai menyiapkan desain ulang kebijakan strategis untuk mempercepat pengembangan ekosistem perkopian dari sektor hulu hingga hilir.
Langkah tersebut mendapat dukungan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan International Labour Organization (ILO) melalui program pendampingan penguatan ekosistem kopi di Kabupaten Bondowoso.
Bupati Bondowoso Dr. Abd Hamid Wahid mengatakan, program tersebut berawal dari komitmen OJK untuk mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi daerah melalui pengembangan produk unggulan, salah satunya kopi.
Hal itu disampaikan Bupati saat ditemui di Pendopo RBA Bondowoso, Rabu (30/9/2026).
Menurutnya, beberapa tahun sebelumnya Pemkab Bondowoso telah menyampaikan gagasan mengenai program Bondowoso Republik Kopi (BRK) Reborn yang kemudian mendapat dukungan dari OJK.
“Sebetulnya bermula dari komitmen OJK untuk mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi, khususnya dalam produk unggulan kita yaitu kopi,” kata Abd Hamid Wahid.
BACA JUGA: Ojk Dorong Penguatan Ekosistem Kopi Bondowoso Siapkan Akses Pembiayaan Hingga Asuransi
ILO Dorong Penguatan Ekosistem Kopi Bondowoso Siapkan Digitalisasi Hingga Akses Pasar Eropa
Ia menjelaskan, dukungan berbagai pihak saat ini menjadi momentum untuk melakukan evaluasi sekaligus menyusun kembali kebijakan strategis pengembangan perkopian di Bondowoso.
“Wujudnya mungkin saat ini kita akan mulai melakukan desain atau redesign kebijakan-kebijakan strategis untuk pengembangan ekosistem perkopian di Bondowoso,” ujarnya.
Bupati menyebut, pendampingan program ILO fase ketiga turut menjadi bagian penting dalam upaya tersebut. Dari sejumlah daerah yang menjadi kandidat, Bondowoso akhirnya terpilih sebagai salah satu daerah sasaran pendampingan.
“Kita bersyukur dan merasa optimis bahwa akselerasi perkembangan, revitalisasi kopian yang terintegrasi ekosistemnya mulai dari hulu ke hilir akan dapat tertata dengan baik,” ungkapnya.
Pemkab, lanjut Abd Hamid Wahid, siap memberikan dukungan kebijakan serta merangkul berbagai pihak agar pengembangan kopi tidak berjalan sendiri-sendiri.
“Kita siap memberikan dukungan kebijakan dan apa yang diperlukan untuk itu, termasuk merangkul berbagai pihak untuk kita berkembang bersama-sama,” tegasnya.
BOGEM Masih Dievaluasi
Selain pengembangan ekosistem kopi, Bupati juga menyinggung keberlanjutan BOGEM yang selama ini menjadi salah satu instrumen dalam pengembangan komoditas kopi Bondowoso.
Ia mengatakan, keberadaan BOGEM saat ini masih dalam tahap evaluasi. Pemkab juga telah melakukan langkah hukum dan administratif terkait keberlanjutan program tersebut.
Menurutnya, sebelumnya telah dilakukan cut off terhadap program BOGEM setelah muncul berbagai persoalan. Pemkab juga telah memperoleh pendapat hukum dan aspek keuangan dari Kejaksaan.
“Kita sedang sekarang bersama-sama dengan manajemen perusahaan milik Jawa Timur melakukan evaluasi terhadap BOGEM,” jelasnya.
Hasil evaluasi tersebut nantinya akan menjadi dasar untuk menentukan apakah program BOGEM akan dilanjutkan.
“Kalau nanti ini cukup memadai, insyaallah akan kita teruskan,” kata Abd Hamid Wahid.
BACA JUGA: Ikd Bondowoso Baru 67 Persen Dispendukcapil Perluas Jemput Bola Hingga Desa
Pj Kades Padasan Diganti Camat Pujer Sebut Langkah Redam Potensi Gejolak
Ia menegaskan, keputusan mengenai keberlanjutan BOGEM akan mempertimbangkan hasil evaluasi secara menyeluruh. Pemkab berharap pengembangan kopi ke depan tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi mampu membangun ekosistem yang terintegrasi dan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
Dengan dukungan OJK, ILO, pemerintah daerah, pelaku usaha, petani, lembaga keuangan, serta pemangku kepentingan lainnya, Pemkab Bondowoso menargetkan pengembangan kopi dapat kembali diperkuat melalui kebijakan yang lebih terarah dari hulu hingga hilir.
Penulis: Redaksi


