ILO Dorong Penguatan Ekosistem Kopi Bondowoso, Siapkan Digitalisasi hingga Akses Pasar Eropa

BONDOWOSO, ulas.co.id – International Labour Organization (ILO) mendorong penguatan ekosistem kopi di Kabupaten Bondowoso melalui digitalisasi, perluasan akses pembiayaan, hingga pembukaan peluang pasar ekspor ke Eropa.
Komitmen tersebut disampaikan dalam kunjungan ILO ke Kabupaten Bondowoso, Rabu (30/9/2026), di Pendopo RBA Bondowoso.
Bondowoso menjadi salah satu wilayah sasaran dalam fase ketiga penguatan sektor kopi yang dilakukan melalui program ILO.
Nasional Project Coordinator Project PROMISE Impact Fase 2 ILO, Sugiono, mengatakan pihaknya sebelumnya telah melakukan survei dan kunjungan lapangan untuk melihat kesiapan ekosistem kopi di Bondowoso.
BACA JUGA: Ojk Dorong Penguatan Ekosistem Kopi Bondowoso Siapkan Akses Pembiayaan Hingga Asuransi
Menurutnya, pada fase ketiga ini ILO akan masuk lebih jauh pada penguatan sektor kopi, salah satunya melalui pembangunan platform digital yang mampu merekam berbagai aktivitas dalam ekosistem kopi.
“Di fase ketiga ini kita akan masuk ke penguatan di sektor kopi. Salah satu daerah yang menjadi target area adalah Bondowoso,” ujar Thomas Sugiono.
Ia menjelaskan, digitalisasi menjadi salah satu pilar penting dalam program tersebut. Platform digital yang dikembangkan nantinya akan memuat data petani, aktivitas usaha, hingga transaksi yang terjadi dalam ekosistem kopi.
Sistem tersebut juga diarahkan untuk mendukung traceability atau ketertelusuran produk, terutama karena pasar ekspor Eropa semakin mensyaratkan informasi mengenai asal-usul komoditas.
“Dengan adanya digital platform itu bisa ditelusuri sampai ke level petani,” jelasnya.
Selain mencatat data petani, sistem tersebut nantinya dapat digunakan untuk memetakan lokasi lahan budidaya melalui geotagging dan pemetaan poligon. Dengan demikian, lokasi perkebunan kopi dapat diketahui secara lebih detail, termasuk untuk memastikan apakah lahan budidaya berada di kawasan yang berisiko terkait deforestasi.
Hal tersebut dinilai penting untuk mendukung persyaratan pasar Eropa yang semakin menekankan aspek ketertelusuran dan keberlanjutan komoditas.
Permudah Akses Pembiayaan
Sugiono menambahkan, digitalisasi juga diarahkan untuk memperkuat akses pembiayaan bagi petani dan pelaku UMKM kopi.
Selama ini, salah satu kendala lembaga keuangan dalam menyalurkan pembiayaan adalah keterbatasan data mengenai kondisi usaha, produksi, maupun pendapatan petani.
Dengan data yang terkumpul dalam platform digital, bank diharapkan dapat memperoleh informasi yang lebih lengkap sebagai bahan dalam melakukan analisis kredit.
“Dengan adanya digitalisasi itu akan lebih memudahkan pihak bank untuk mendapatkan data mengenai berapa penghasilan dari petani dan berapa produksinya, karena semua data itu ada di digital platform,” katanya.
BACA JUGA: Ikd Bondowoso Baru 67 Persen Dispendukcapil Perluas Jemput Bola Hingga Desa
Namun, Sugiono menegaskan bahwa ILO tidak menyediakan dana pembiayaan secara langsung. Peran ILO lebih pada membuka fasilitasi dan akses antara pelaku UMKM atau petani dengan lembaga keuangan.
Pengajuan pembiayaan tetap menjadi kewenangan masing-masing bank dan harus melalui kajian serta prosedur sesuai kebijakan kredit yang berlaku.
“Tidak serta-merta apa yang direkomendasikan langsung disetujui. Tentunya harus mengikuti SOP yang berlaku untuk pemberian kredit dan juga kebijakan dari bank tersebut,” tegasnya.
Dorong Kopi Bondowoso Tembus Pasar Eropa
Selain digitalisasi dan pembiayaan, ILO juga membuka peluang promosi kopi Bondowoso ke pasar Eropa melalui jaringan mitra yang dimilikinya.
Thomas menyebut, ILO memiliki jaringan dengan Swiss Import Promotion Programme (SIPPO), lembaga yang membantu mempromosikan produk Indonesia ke pasar Swiss dan Eropa.
Menurutnya, kopi menjadi salah satu komoditas Indonesia yang memiliki peluang di pasar Eropa. Karena itu, jaringan tersebut akan dimanfaatkan untuk membantu memperkenalkan kopi Bondowoso kepada pasar yang lebih luas.
“Kita akan minta bantuan rekan-rekan kami dari SIPPO untuk mempromosikan kopi Bondowoso ini untuk bisa menembus pasar Eropa,” ungkapnya.
Meski demikian, Sugiono menyebut produk kopi yang akan masuk ke pasar Eropa tetap harus memenuhi persyaratan dan standar yang ditetapkan oleh pasar tujuan.
Sejumlah skema sertifikasi dapat menjadi persyaratan, tergantung kebutuhan masing-masing pasar, antara lain sertifikasi 4C, Rainforest Alliance, maupun sertifikasi organik.
Karena itu, sebelum masuk ke pasar tertentu, produk kopi Bondowoso perlu melalui proses kurasi dan penyesuaian terhadap persyaratan yang diminta oleh calon pembeli.
Tekankan Standar Ketenagakerjaan
Dalam pengembangan ekosistem kopi, ILO juga memastikan aspek ketenagakerjaan menjadi bagian penting dari pelaksanaan program.
Sebagai organisasi internasional di bidang ketenagakerjaan, ILO menerapkan standar dalam setiap aktivitas proyek yang dijalankan bersama mitra di lapangan.
BACA JUGA: Pj Kades Padasan Diganti Camat Pujer Sebut Langkah Redam Potensi Gejolak
Thomas mengatakan standar tersebut antara lain berkaitan dengan kesehatan dan keselamatan kerja (K3), serta memastikan tidak adanya praktik pekerja anak dalam ekosistem yang mendapatkan dukungan program.
“Kita ingin memastikan ekosistem yang disupport oleh ILO tidak ada pekerja anak, karena ILO adalah organisasi yang anti child labour,” ujarnya.
Ia berharap prinsip-prinsip tersebut dapat diterapkan oleh seluruh mitra dan pelaku dalam ekosistem kopi yang dikembangkan di Bondowoso.
Penguatan ekosistem kopi tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan produktivitas petani, tetapi juga memperbaiki tata kelola data, membuka akses pembiayaan, memenuhi tuntutan keberlanjutan pasar global, serta memperluas peluang kopi Bondowoso untuk masuk ke pasar internasional.
Penulis: Redaksi


