OJK Dorong Penguatan Ekosistem Kopi Bondowoso, Siapkan Akses Pembiayaan hingga Asuransi

BONDOWOSO, ulas.co.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong penguatan ekosistem kopi Kabupaten Bondowoso dari hulu hingga hilir melalui sinergi pemerintah daerah, pelaku usaha, lembaga keuangan, hingga pemangku kepentingan lainnya.

Hal tersebut disampaikan Kepala Kantor OJK Aris Budiman, Rabu (30/9/2026), usai mengikuti rapat bersama Bupati dan Wakil Bupati Bondowoso, Sekretaris Daerah (Sekda), serta sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.

Aris menjelaskan, dalam pengembangan ekosistem kopi, diperlukan peran sebagai katalisator dan agregator untuk mempertemukan serta mensinergikan seluruh pemangku kepentingan. Langkah tersebut dilakukan dengan memanfaatkan berbagai sumber daya dan peluang yang tersedia agar proses pengembangan kopi Bondowoso dapat berjalan lebih cepat dan terarah.

“Sebagai katalisator agregator artinya kami mencoba untuk mensinergikan semua pemangku kepentingan yang terkait dengan upaya kita mewujudkan yang namanya BRK,” ujar Aris.

BACA JUGA: Ikd Bondowoso Baru 67 Persen Dispendukcapil Perluas Jemput Bola Hingga Desa

Menurutnya, salah satu pembahasan penting dalam pertemuan tersebut adalah komitmen terhadap pilot project Promise to Impact Fase 3, yang salah satu fokusnya berkaitan dengan pengembangan komunitas kopi.

Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas komunitas kopi di Bondowoso dalam sebuah ekosistem yang terintegrasi, mulai dari sektor hulu hingga hilir.

Dalam konsep tersebut, OJK juga akan mendorong keterhubungan ekosistem kopi dengan lembaga jasa keuangan, baik perbankan maupun nonbank. Salah satu peluang yang dibahas adalah keterlibatan sektor asuransi untuk memberikan perlindungan terhadap aktivitas petani kopi.

“Wujudnya sendiri sebagai agregator, menghubungkan antara ekosistem tersebut dengan khususnya lembaga keuangan, baik itu perbankan maupun nonbank. Contohnya di asuransi,” jelasnya.

Aris mengatakan, berbagai program tersebut pada akhirnya diharapkan bermuara pada penyusunan grand strategy pengembangan kopi Bondowoso. Strategi tersebut akan memuat lima pilar dan dua fondasi dengan visi hingga 2035, serta dilengkapi sejumlah capaian dan indikator yang akan menjadi ukuran keberhasilannya.

Penyusunan grand strategy tersebut akan melibatkan berbagai unsur di lingkungan Pemkab Bondowoso, termasuk perangkat daerah yang membidangi pertanian, perdagangan, pariwisata, komunikasi dan informatika, serta Bapperida.

Selain itu, pihak terkait juga akan memastikan strategi tersebut selaras dengan roadmap pengembangan kopi yang tengah disiapkan.

“Ujung-ujungnya kita akan menyusun bersama grand strategy. Ada lima pilar, ada dua fondasi dengan visi di 2035, ada capaian-capaian atau indikator-indikator tertentu. Ini nanti akan dibahas bareng lagi,” katanya.

BACA JUGA: PJ Kades Padasan Diganti Camat Pujer Sebut Langkah Redam Potensi Gejolak

Kick Off Direncanakan Awal 2027

Untuk pelaksanaan program, Aris menyebut tahap awal diperkirakan dimulai pada November, sementara kick off secara resmi direncanakan pada awal 2027.

Program tersebut dirancang berlangsung selama empat tahun dan dapat diperpanjang berdasarkan hasil evaluasi.

“Secara resmi kick off-nya di awal tahun 2027 dengan jangka waktu empat tahun atau nanti bisa lebih sesuai dengan hasil evaluasi,” ungkapnya.

Pengembangan komunitas kopi nantinya tidak hanya dilakukan di satu titik. Salah satu wilayah yang akan menjadi bagian dari pengembangan adalah kawasan yang telah memiliki pelaku usaha dan ekosistem kopi, termasuk usaha yang selama ini telah menjalin kerja sama dengan pihak pembeli atau offtaker.

Namun, Aris menyebut peluang pengembangan di beberapa titik lain juga masih terbuka. Kerja sama yang sudah berjalan dengan sejumlah perusahaan akan terlebih dahulu dievaluasi untuk melihat kemungkinan diintegrasikan dengan program tersebut.

Bondowoso Gemilang Didorong Jadi Offtaker

Dalam pertemuan tersebut, penguatan kembali BUMD Bondowoso Gemilang juga menjadi salah satu perhatian.

Aris menyebut, apabila Bondowoso Gemilang telah kembali aktif dan seluruh aspek kelembagaannya telah jelas, BUMD tersebut diharapkan dapat mengambil peran sebagai salah satu offtaker utama kopi Bondowoso.

Dengan begitu, hasil produksi kopi Bondowoso dapat lebih terkoordinasi melalui ekosistem perdagangan di daerah.

“Harapannya ketika nanti Bondowoso Gemilang itu sudah teraktivasi kembali, yang sudah clear and clean, nanti yang akan menjadi offtaker utamanya di Bondowoso itu adalah Bondowoso Gemilang,” ujarnya.

Menurut Aris, konsep tersebut bukan untuk memonopoli perdagangan kopi, melainkan membangun sistem koordinasi dan pendataan yang lebih baik.

Dengan adanya sistem tersebut, pergerakan kopi yang keluar dari Bondowoso dapat lebih mudah diketahui. Hal ini juga dinilai penting untuk membantu pemerintah daerah melacak potensi pendapatan yang berkaitan dengan aktivitas perdagangan dan ekspor kopi.

“Ini kan kita mengkoordinir, bukan memonopoli. Di situlah peran pentingnya BUMD,” tegasnya.

Aris mencontohkan, selama ini sebagian kopi Bondowoso diekspor melalui daerah lain, seperti Lampung maupun Gayo. Kondisi tersebut membuat aktivitas perdagangan kopi Bondowoso tidak seluruhnya tercatat melalui jalur perdagangan daerah.

Padahal, menurutnya, apabila terdapat sistem perdagangan yang lebih terintegrasi, pemerintah daerah akan lebih mudah mengetahui pergerakan komoditas sekaligus potensi penerimaan yang bersumber dari aktivitas tersebut.

Dorong Sertifikasi Kopi di Bondowoso

Selain pembiayaan dan perdagangan, penguatan sumber daya manusia juga menjadi bagian dari ekosistem kopi yang sedang dibangun.

Aris menyebut, saat ini sudah ada dua orang yang dikirim untuk mengikuti pelatihan dan sertifikasi terkait kopi. Langkah tersebut diharapkan membuat kebutuhan sertifikasi dapat dilakukan di Bondowoso tanpa harus bergantung pada daerah lain.

“Jadi nggak perlu lagi dari Banyuwangi, nggak perlu dari Jember, nanti bisa ngurus di Kabupaten Bondowoso,” pungkasnya.

Penguatan ekosistem tersebut diharapkan dapat membuat rantai usaha kopi Bondowoso semakin terintegrasi, mulai dari petani, pengolahan, pembiayaan, perlindungan melalui asuransi, hingga pemasaran dan ekspor.

Penulis: Redaksi

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *