Tradisi Ojung, Mewarnai Selamatan Desa Tumpeng Lumajang

Dua Peserta yang sedang melakukan tradisi Ojung (foto dok: Riaman Ulas.co.id)
LUMAJANG, Ulas.co.id – Pemerintah Desa Tumpeng, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang Jawa Timur menggelar tradisi sampyong atau Ojung dalam acara selamatan desa, di lapangan desa setempat, Rabu (08/10/2025).
Awalnya, tradisi Ojung merupakan upacara permohonan hujan, tetapi saat ini menjadi bagian upacara sedekah desa. Kini tradisi Ojung memiliki bagian penting masyarakat Pandhalungan di Kabupaten Lumajang.
Biasanya tradisi ini diikuti oleh para pemuda desa setempat. Mereka akan melakukan atraksi di mana mereka beradu menggunakan rotan di arena yang telah disediakan.
Akibat dari pertandingan tersebut meninggalkan luka. Namun, meski terluka, mereka tampak menikmati pertandingan dan ikut dalam tarian yang diiringi alunan gamelan.
Dalam tradisi Ojung, keberanian dan kelincahan diri menjadi keahlian yang sangat penting. Hal tersebut berguna untuk menghindari serta menyabetkan rotan kepada lawan.
“Kalau persiapan tidak ada, pokoknya ingin main buat meramaikan sedekah desa ini. Main Ojung ini buat keseruan, sekaligus menunjukkan keberanian sebagai laki-laki,” ujar salah satu peserta.
Menurutnya, dalam pertandingan setiap peserta diberi kesempatan untuk menyabet lawan sebanyak lima kali. Dengan begitu pemenang ditentukan oleh siapa yang mampu membuat luka lebih banyak di punggung lawan.
Peserta menganggap luka-luka akibat sabetan rotan di punggung sebagai hal yang biasa dan percaya bahwa luka tersebut akan sembuh seiring waktu.
Sementara itu, Kepala Desa Tumpeng, Moch. Deni Purwadi mengungkapkan bahwa Ojung merupakan warisan dari nenek moyang yang perlu dijaga agar tetap lestari.
Bukan hanya sekadar upacara saja, Ojung juga bisa menjadi ajang untuk berkumpulnya warga desa, memelihara hubungan sosial dan silaturahmi.
Tradisi ini akan berlangsung dalam acara selamatan desa yang melibatkan peserta dari Desa Tumpeng dan para tetangga desa, serta tetangga kabupaten.
“Ini adalah bentuk masyarakat desa dalam memelihara tradisi dari leluhur kami. Tradisi ini sudah dua kali ini kami gelar saat selamatan desa,” ujar Deni.
Kepala Desa Tumpeng berharap upacara Ojung dan selamatan desa ini dapat mendukung kemakmuran desa, kelimpahan sumber air, hasil panen yang melimpah, dan keberuntungan dalam menghindari bencana.
“Harapan warga tetap kompak saling silaturahmi sehingga masyarakat tetap makmur serta semoga dihindarkan dari bencana,” pungkasnya.
Untuk diketahui, rangkaian selamatan Desa Tumpeng berlangsung mulai Rabu 8 Oktober 2025 dengan atraksi ritual Ojung di Lapangan Iptu Jam’ari, dilanjutkan Karnaval Akbar pada Sabtu 11 Oktober 2025 diikuti 33 peserta, dan puncaknya pagelaran wayang kulit semalam suntuk pada Kamis 16 Oktober 2025. (Riaman)







