Aglomelasi Tapal Kuda Diresmikan: Jember, Bondowoso dan Situbondo Bersatu Menuju Pembangunan Terintegrasi

Penandatanganan kesepakatan aglomerasi dari tiga kabupaten, Bupati Situbondo, Bondowoso dan jember (foto dok: Yusi Ulas.co.id)
Bondowoso, Ulas.co.id – Sejarah baru ditorehkan di jantung kawasan timur Jawa Timur. Tiga kabupaten Jember, Bondowoso, dan Situbondo secara resmi menandatangani Kesepakatan Bersama Aglomerasi Daerah, sebuah langkah monumental menuju pembangunan lintas wilayah yang efisien, inklusif, dan berdampak langsung pada masyarakat.
Penandatanganan yang digelar di Pendopo Bupati Bondowoso ini menandai komitmen strategis ketiga kepala daerah: Muhammad Fawaid (Bupati Jember), Abdul Hamid Wahid (Bupati Bondowoso), dan Yusuf Rio Wahyu Prayogo (Bupati Situbondo) dalam menyatukan visi pembangunan regional berbasis potensi lokal, konektivitas kawasan, dan pelayanan publik terintegrasi.
Aglomerasi: Lebih dari Sekadar Kolaborasi.
Dengan semangat gotong royong dan visi jangka panjang, kesepakatan bernomor resmi masing-masing kabupaten tersebut memuat ruang lingkup kerja sama yang sangat luas, mulai dari:
Pengembangan ekonomi kawasan berbasis potensi lokal
Integrasi rantai pasok antarwilayah
Industrialisasi lokal berbasis komoditas unggulan
Kolaborasi program dan penganggaran lintas daerah
Pengembangan pariwisata lintas kabupaten
Penguatan sistem transportasi darat, laut, dan udara
Ketahanan pangan regional berbasis distribusi dan produksi lokal.
Kesepakatan berlaku selama lima tahun, dan akan dijalankan melalui perjanjian teknis-operasional lanjutan serta dibentuknya tim koordinasi bersama sebagai pengawas pelaksanaan kerja sama.
Dalam sambutan resmi yang penuh semangat, Bupati Bondowoso, Abdul Hamid Wahid, menegaskan pentingnya membangun kawasan Tapal Kuda sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di Jawa Timur:
“Kita tidak sekadar menandatangani MoU. Ini adalah deklarasi masa depan. Kita ingin kawasan ini menjadi seperti Jabodetabek atau Gerbangkertosusila, dengan wajah khas Tapal Kuda yang kaya budaya dan potensi ekonomi,” ujarnya.
Sementara itu, Bupati Jember, Muhammad Fawaid, menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor sebagai jalan keluar dari stagnasi pembangunan kawasan.
“Kita ini ibarat satu tubuh yang selama ini bergerak sendiri-sendiri. Aglomerasi ini adalah cara kita untuk menyatukan gerak dan langkah menuju kesejahteraan bersama,” ungkapnya.
Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo, tampil dengan gaya santai tapi penuh makna. Ia bahkan menutup sambutannya dengan pantun khas Situbondo:
“Pergi ke ladang di pagi hari, langit cerah burung pun terbang. Tiga daerah bersatu hati, untuk kemajuan kita berjuang,” ucapnya.
“Buah mangga dipetik manis di halaman, Situbondo, Jember, dan Bondowoso bersandingan, membangun bersama menuju masa depan,” tuturnya.
Dalam penjelasan lebih lanjut, para kepala daerah menekankan bahwa kolaborasi ini bukan hanya gagasan simbolik, tapi akan berdampak nyata dalam waktu dekat. Program-program konkret seperti pengembangan jalur kereta api, digitalisasi layanan publik lintas kabupaten, dan penguatan pasar produk unggulan lokal akan mulai dijalankan mulai 2026.
“Aglomerasi Tapal Kuda bukan sekadar teori. Ini adalah model pembangunan baru lintas batas, lintas ego, dan lintas kepentingan. Kita bersepakat untuk membangun bersama, bukan saling mendahului,” tambah Bupati Bondowoso dalam sambutan penutupnya.
Pemerintah pusat dan provinsi Jawa Timur dilaporkan menyambut baik inisiatif ini. Bahkan, kawasan Tapal Kuda disebut-sebut akan masuk dalam proyek strategis nasional berikutnya, menyusul langkah konsolidasi dan penyusunan naskah akademik sebagai dasar kebijakan jangka panjang.
Tak hanya itu, kabupaten lain di sekitar kawasan seperti Banyuwangi juga dikabarkan tertarik untuk bergabung, membuka peluang Aglomerasi Tapal Kuda+ yang lebih besar dan menyatukan seluruh wilayah timur Jatim.
Dalam momen humoris namun penuh makna, Bupati Situbondo mencontohkan bahwa aglomerasi sesungguhnya sudah hidup dalam kehidupan masyarakat.
“Tape Bondowoso dijual di Situbondo, tapi tidak diubah jadi Tape Situbondo. Itulah aglomerasi kultural yang nyata. Kita tinggal menyatukan yang sudah terjalin ini ke dalam kerangka pembangunan resmi,” ungkapnya.
Kesimpulan: Tapal Kuda Bersatu, Indonesia Maju
Penandatanganan kesepakatan ini adalah tonggak baru dalam sejarah kawasan Tapal Kuda. Bukan hanya sebagai deklarasi, tapi sebagai manifesto pembangunan bersama berbasis kedekatan geografis, sejarah, dan budaya.
Tiga kabupaten, satu kawasan, satu tekad: mewujudkan masa depan yang terintegrasi, inklusif, dan sejahtera. (Yus)







