Dari Perawat ke Bisnis Ayam, Lina Tri Puspita Kini Berkiprah di MBG dan IWAPI Bondowoso

BONDOWOSO, ulas.co.id – Perjalanan Lina Tri Puspita Sudarmo Putri, yang akrab dikenal sebagai Incess Magdalena, menjadi gambaran bagaimana pengalaman, keberanian mengambil peluang, dan konsistensi dalam berusaha dapat membuka jalan baru dalam kehidupan.

Berawal dari dunia keperawatan, Lina kemudian memperluas kiprahnya ke dunia usaha dengan menekuni bisnis peternakan dan perdagangan ayam. Dari sektor tersebut, aktivitas usahanya terus berkembang hingga dirinya terlibat sebagai pengelola program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kini, pengalaman di dunia kesehatan dan usaha tersebut membawanya pada ruang pengabdian yang lebih luas. Lina dipercaya bergabung dalam kepengurusan Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) DPC Kabupaten Bondowoso dengan bidang yang berkaitan dengan peternakan. Kiprah tersebut dijalani Lina pada Senin (21/9/2026) di Pendopo RBA Bondowoso.

Dari Merawat Pasien hingga Mengembangkan Usaha

Bagi Lina, dunia keperawatan menjadi salah satu fondasi penting dalam perjalanan hidupnya. Profesi tersebut mengajarkannya tentang ketelitian, tanggung jawab, kepedulian, serta bagaimana memberikan manfaat bagi orang lain.

Namun, perjalanan profesionalnya tidak berhenti di dunia kesehatan.

Lina kemudian memberanikan diri memasuki dunia usaha ayam. Aktivitasnya berkembang menjadi pengepul ayam potong sekaligus supplier yang melayani kebutuhan berbagai dapur MBG di Bondowoso.

BACA JUGA: Sekda Bondowoso Laran Asn-live-tiktok-saat-jam-kerja-jualan-pribadi-terancam-sanksi/

Simata Diterapkan Pemkab Bondowoso Petakan Kinerja dan Potensi Asn Untuk Mutasi Hingga Promosi

Selain memasok untuk kebutuhan dapur MBG, usahanya juga melayani penjualan ayam potong secara eceran maupun partai besar.

Jaringan usahanya bahkan berkembang hingga dipercaya oleh PT Charoen Pokphand sebagai vendor ekspedisi atau jasa pengiriman ayam potong hidup.

Pengalaman tersebut membuat Lina semakin memahami bahwa sektor peternakan bukan hanya berkaitan dengan produksi, tetapi juga memiliki rantai usaha yang panjang, mulai dari peternak, pengepul, distributor, jasa pengiriman hingga konsumen.

Terlibat dalam Rantai Pasok MBG

Keterlibatan Lina dalam pengelolaan MBG menjadi bagian lain dari perjalanan usahanya. Pengalaman di bidang kesehatan dan usaha pangan membuat dirinya melihat program tersebut bukan hanya dari sisi penyediaan makanan bergizi, tetapi juga dari bagaimana rantai pasok lokal dapat ikut bergerak.

Sebagai supplier ayam potong, Lina turut memahami pentingnya menjaga kualitas, ketersediaan pasokan, ketepatan pengiriman, dan kontinuitas kebutuhan dapur MBG.

“Ketika masuk ke dunia usaha ayam, saya belajar bahwa yang dibutuhkan bukan hanya bagaimana menjual produk, tetapi bagaimana menjaga kualitas, memenuhi kebutuhan pelanggan dan memastikan barang sampai tepat waktu. Ketika kemudian terlibat dalam MBG, pengalaman itu semakin berkembang karena ada kebutuhan pasokan yang harus dijaga secara berkelanjutan,” ujar Lina.

Menurutnya, keterlibatan dalam rantai pasok MBG juga membuka peluang bagi pelaku usaha lokal untuk berkembang apabila mampu memenuhi standar dan kebutuhan yang ditetapkan.

“Bagi saya, MBG juga menjadi ruang untuk menggerakkan ekonomi lokal. Ketika kebutuhan dapur bisa dipenuhi oleh pelaku usaha di daerah, maka ada peternak, pengepul, tenaga pengiriman dan pelaku usaha lainnya yang ikut bergerak,” lanjutnya.

Bergabung dengan IWAPI, Fokus pada Potensi Peternakan

Di IWAPI DPC Kabupaten Bondowoso, Lina mengambil bagian pada bidang peternakan. Peran tersebut menjadi ruang baginya untuk membawa pengalaman yang telah diperoleh dari dunia usaha ke dalam organisasi.

Menurut Lina, peternakan memiliki potensi besar untuk dikembangkan karena tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan pangan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Ia melihat keterlibatan perempuan dalam sektor tersebut juga perlu terus diperkuat. Perempuan tidak hanya dapat menjadi pelaku usaha, tetapi juga dapat mengambil peran dalam pengembangan jaringan, inovasi, distribusi hingga membuka peluang usaha baru.

“Bagi saya, perjalanan ini bukan sekadar berpindah dari dunia keperawatan ke bisnis peternakan ayam, kemudian menjadi supplier untuk kebutuhan dapur MBG dan bergabung bersama IWAPI. Ini adalah proses belajar yang terus berjalan,” kata Lina.

Ia menilai setiap bidang yang dijalaninya memiliki pelajaran dan nilai pengabdian tersendiri.

“Saya percaya, setiap profesi dan usaha memiliki nilai pengabdian masing-masing. Dari merawat pasien, mengembangkan usaha ayam, membantu memenuhi kebutuhan pasokan MBG, sampai sekarang ikut berkontribusi di IWAPI, semuanya menjadi bagian dari perjalanan yang ingin saya jalani dengan penuh tanggung jawab,” ungkapnya.

Ingin Perempuan Bondowoso Semakin Berani Berusaha

Bergabungnya Lina dalam kepengurusan IWAPI juga tidak hanya dimaknai sebagai posisi organisasi. Ia ingin keberadaannya dapat menjadi bagian dari gerakan yang mendorong semakin banyak perempuan untuk berani mengambil peluang di dunia usaha.

Menurutnya, perempuan memiliki potensi besar untuk berkembang ketika mendapatkan ruang, jaringan, dan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan.

“Melalui IWAPI, saya berharap dapat ikut mendorong perempuan Bondowoso agar semakin berani berwirausaha. Tidak harus langsung dalam skala besar. Yang penting berani memulai, mau belajar, membangun jaringan dan konsisten mengembangkan usaha,” tuturnya.

Lina juga berharap sektor peternakan dapat semakin berkembang dan memberikan ruang yang lebih besar bagi pelaku usaha lokal, termasuk perempuan.

“Potensi peternakan di Bondowoso sangat besar. Saya ingin pengalaman yang saya miliki bisa dibagikan kepada perempuan lain, sehingga semakin banyak yang melihat bahwa sektor peternakan dan pangan juga bisa menjadi peluang usaha yang menjanjikan,” katanya.

Perjalanan Lina dari seorang perawat, kemudian menekuni bisnis ayam, menjadi pengepul dan supplier ayam potong, melayani kebutuhan eceran maupun partai besar, dipercaya sebagai vendor jasa pengiriman ayam potong hidup untuk PT Charoen Pokphand, hingga terlibat dalam pengelolaan MBG dan bergabung dalam kepengurusan IWAPI bidang peternakan menjadi rangkaian perjalanan yang terus berlanjut.

Bagi Lina, keberhasilan bukan semata tentang seberapa jauh seseorang melangkah, melainkan bagaimana pengalaman yang dimiliki dapat diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, membuka peluang usaha, sekaligus ikut menggerakkan perekonomian di lingkungan sekitar.

“Bagi saya, usaha bukan hanya soal keuntungan. Ada tanggung jawab, ada kepercayaan yang harus dijaga, dan ada manfaat yang harus diberikan. Selama kita mau belajar dan bekerja dengan sungguh-sungguh, selalu ada peluang untuk berkembang dan memberikan manfaat,” pungkasnya. (Red)

 

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *