DPKP Bondowoso Perkuat Perlindungan Varietas Tembakau Maesan 1 dan 2

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bondowoso bersama Bupati, Sekda, Ketua DPRD dan Ketua DPC APTI, serta Sekjen DPD APTI Jawa Timur saat menanam tembakau (foto dok: Yusi Ulas.co.id)
Bondowoso, ulas.co.id – Pemerintah Kabupaten Bondowoso melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) terus memperkuat langkah dalam mempertahankan eksistensi varietas tembakau unggulan Maesan 1 dan 2. Selain menjaga identitas tembakau khas Bondowoso, upaya tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Kamis (21/5/2026) di Kantor Desa Mengok Kecamatan Pujer Bondowoso.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bondowoso, Mulyadi, mengungkapkan bahwa luas areal tanaman tembakau di Bondowoso pada tahun 2025 tercatat mencapai 8.544,8 hektare. Sementara untuk tahun 2026 diprediksi mengalami peningkatan meski tidak terlalu signifikan.
“Data real areal tanaman tembakau di Kabupaten Bondowoso tahun 2025 seluas 8.544,8 hektare. Tahun 2026 insya Allah ada peningkatan, namun belum signifikan karena sebagian petani masih belum melaksanakan pengolahan lahan dan penanaman,” kata Mulyadi.
Menurutnya, Pemkab Bondowoso berkomitmen menjaga keberlangsungan varietas Maesan 1 dan 2 yang selama ini menjadi ikon tembakau daerah. Salah satu langkah yang disiapkan adalah memberikan bantuan kepada para penangkar bibit agar kualitas dan kemurnian varietas tetap terjaga.
“Kami sudah melakukan hearing dengan Komisi II DPRD Bondowoso. Salah satu yang akan dilakukan adalah memberi bantuan kepada penangkar bibit Maesa 1 dan 2 karena selama ini masih belum maksimal,” ujarnya.
Mulyadi menjelaskan, masih banyak petani yang belum memahami secara detail perbedaan antara varietas Maesan 1 dan 2. Kondisi tersebut kerap membuat hasil panen dianggap bercampur saat masuk ke perusahaan pembeli.
“Kadang petani tidak tahu mana Maesan 1 dan mana Maesan 2. Saat panen masuk ke perusahaan dianggap bercampur atau ngeplos, padahal itu karena ketidaktahuan petani,” jelasnya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, DPKP Bondowoso juga akan berkoordinasi dengan sejumlah perusahaan agar kembali membuka pembelian tembakau Bondowoso, khususnya varietas unggulan lokal.

Selain persoalan varietas, tantangan utama petani tembakau saat ini adalah keterbatasan ketersediaan air. Karena itu, pemerintah daerah telah mengusulkan bantuan ke pemerintah pusat melalui program perpompaan dan irigasi perpipaan.
“Yang paling banyak diminta petani sementara ini adalah ketersediaan air. Kami sudah mengusulkan bantuan melalui program perpompaan maupun irigasi perpipaan,” terang Mulyadi.
Di tengah tantangan tersebut, petani Bondowoso juga mulai menerapkan pola tanam tumpang sari dengan tanaman seperti cabai. Menurutnya, pola tersebut tidak memengaruhi kualitas tembakau selama petani memahami waktu tanam yang tepat.
“Petani sudah memahami kapan waktu menanam tumpang sari seperti lombok agar tidak memengaruhi kualitas daun tembakau,” katanya.
Mulyadi menegaskan, Besuki 1 dan Besuki 2 memiliki keunggulan tersendiri dibanding varietas lain, terutama dari segi rasa, warna daun, hingga kualitas yang telah memiliki pasar khusus. Bahkan, varietas tersebut sudah dipatenkan sebagai identitas khas Bondowoso.
“Maesan 1 dan 2 ini memang memiliki sejarah sebagai tembakau asli Bondowoso dan sudah dipatenkan agar tidak diklaim daerah lain,” tegasnya.
Ia menambahkan, harga tembakau Maesan 1 dan 2 relatif lebih tinggi dibanding jenis lain karena pembeliannya masih didominasi perusahaan besar yang membutuhkan kualitas premium dari Bondowoso.
Penulis: Redaksi







