Inovasi Mad Peci Bondowoso Dongkrak Keuntungan Peternak hingga 330 Persen, Bidik Lomba Tingkat Nasional

 

BONDOWOSO, ulas.co.id – Pemerintah Kabupaten Bondowoso terus mendorong pengembangan inovasi di sektor peternakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Salah satu inovasi yang kini menjadi perhatian yakni Manajemen Ternak Pedet Cepat Menjadi Induk (Mad Peci).

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Bondowoso, Hendrik Widotono, menyebut inovasi Mad Peci telah memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan keuntungan peternak. Bahkan, inovasi tersebut mendapat apresiasi dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan diproyeksikan untuk diikutsertakan dalam kompetisi inovasi tingkat nasional.

“Mad Peci ini merupakan inovasi yang luar biasa menurut saya. Ini sudah diapresiasi dari provinsi, bahkan inovasi ini akan kita ikutkan lomba di tingkat nasional,” ujar Hendrik, Selasa (11/8/2026).

BACA JUGA: Lomba Mancing Hut Ri Jadi Stimulan Disnakkan Bondowoso Bidik Peningkatan Pad

Menurutnya, keunggulan utama Mad Peci terletak pada percepatan pertumbuhan populasi ternak sekaligus peningkatan nilai ekonomi yang diterima peternak. Berdasarkan perhitungan yang dilakukan, keuntungan peternak melalui metode tersebut dapat meningkat hingga sekitar 330 persen dibandingkan pola pemeliharaan konvensional.

Mad Peci menerapkan pola pemeliharaan pedet hingga usia sekitar empat bulan. Setelah pedet dijual, hasil penjualan kemudian digunakan untuk membeli indukan produktif. Indukan tersebut selanjutnya dikembangkan untuk mempercepat pertambahan populasi ternak.

“Metodenya, ketika lahir kemudian umur empat bulan dijual, hasilnya dibelikan induk dan langsung dikembangkan. Begitu seterusnya,” jelasnya.

Hendrik menjelaskan, dalam pola tersebut pedet betina maupun jantan memiliki nilai ekonomi yang kemudian diputar kembali menjadi modal pengembangan ternak. Pedet betina rata-rata dapat memberikan nilai sekitar Rp2 juta, sedangkan pedet jantan juga memiliki nilai jual yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan populasi.

BACA JUGA: Anggaran Semester 1  2026 Disdukcapil Bondowoso 46 Persen Ghozal  Rawan Dorong Percepatan Layanan Digital

Dari sisi populasi, perbedaan metode tersebut juga cukup signifikan. Dalam kurun waktu lima tahun, peternak yang menerapkan Mad Peci berpotensi memiliki sekitar 33 hingga 65 ekor sapi, sedangkan dengan metode konvensional jumlah ternak yang dimiliki dalam periode yang sama rata-rata jauh lebih rendah.

“Kalau metode konvensional, lima tahun itu paling tinggi sekitar sembilan ekor. Dengan Mad Peci bisa 33 ekor, bahkan sampai 65 ekor,” ungkap Hendrik.

Ditargetkan Satu Desa Satu Indukan

Melihat potensi tersebut, Disnakkan Bondowoso berencana memperluas penerapan Mad Peci ke seluruh wilayah Kabupaten Bondowoso.

Hendrik mengatakan, pihaknya memiliki gambaran program pengembangan dengan skema minimal satu desa atau kelurahan memiliki satu indukan yang dikembangkan menggunakan metode Mad Peci.

BACA JUGA: Camat Taman Krocok Edy Mulyono Siapkan Paskibra Untuk Hut Ri Ke 81

Dengan jumlah sekitar 219 desa dan kelurahan, pengembangan satu indukan di setiap desa/kelurahan berpotensi menghasilkan ribuan indukan dalam beberapa tahun ke depan.

“Kalau satu desa satu ternak, ada sekitar 219. Dalam lima tahun bisa menjadi sekitar 7.000 indukan. Kalau dikembangkan lebih luas lagi, misalnya setiap desa dua atau lebih, jumlahnya tentu bisa mencapai puluhan ribu ekor,” katanya.

Menurut Hendrik, potensi tersebut menjadi alasan kuat bagi pemerintah daerah untuk menjadikan Mad Peci sebagai salah satu inovasi strategis dalam pengembangan peternakan rakyat.

Program tersebut juga akan terus dikembangkan dan dilaporkan kepada pemerintah sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan di sektor peternakan.

Berawal dari Kecamatan Sumber Wringin

Hendrik menyebut inovasi Mad Peci bukanlah program yang baru dimulai. Penerapannya telah berjalan di Kecamatan Sumber Wringin sejak sekitar 2015–2016 dan kini menjadi salah satu lokasi yang dijadikan contoh pengembangan inovasi tersebut.

Dari penerapan di lapangan, terdapat sejumlah peternak yang mampu meningkatkan kepemilikan ternaknya secara signifikan. Salah satunya adalah kelompok peternak yang telah menjalankan pola tersebut selama bertahun-tahun.

Hendrik mencontohkan seorang peternak bernama Ferry yang sebelumnya berprofesi sebagai buruh tani. Setelah menjalankan pola pengembangan ternak tersebut sejak sekitar 2015–2016, kini mampu memiliki sekitar 16 ekor sapi.

“Ada namanya Pak Ferry. Di sana ada enam orang yang sudah memelihara sejak 2015–2016. Salah satunya, dari yang sebelumnya buruh tani, sekarang sudah memiliki 16 sapi,” tuturnya.

BACA JUGA: Ahmad yazdan azmi arifin lolos seleksi siap wakili bondowoso di jamnas xii

Keberhasilan tersebut, lanjut Hendrik, menjadi bukti bahwa inovasi peternakan tidak hanya berorientasi pada peningkatan populasi ternak, tetapi juga dapat menjadi instrumen untuk meningkatkan pendapatan dan kemandirian ekonomi peternak.

Karena itu, Disnakkan Bondowoso akan terus melakukan pengembangan dan replikasi Mad Peci di berbagai wilayah agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

“Ini yang akan kita kembangkan. Kita sampaikan kepada pengambil kebijakan di tingkat pemerintah karena potensinya luar biasa,” pungkasnya.

Penulis: Redaksi

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *