Taring ke-19 Digelar Meriah, 420 Peserta Padukan PBB dan Pawai Budaya dari Tiga Kecamatan

BONDOWOSO, ulas.co.id — Tradisi Taring kembali digelar untuk ke-19 kalinya dengan semarak. Kegiatan yang memadukan gerak jalan Peraturan Baris-Berbaris (PBB) dan pawai budaya itu diikuti sekitar 420 peserta dari tiga kecamatan, yakni Kecamatan Tapen, Sukosari, dan Sumberwringin, Kabupaten Bondowoso.
Kegiatan tersebut berlangsung pada Sabtu (29/8/2026) dengan menghadirkan berbagai kreativitas peserta sekaligus menampilkan kekayaan budaya Nusantara di tengah masyarakat.
Camat Sumberwringin, Probo Nugroho, mengatakan Taring tahun ini diikuti sekitar 60 kelompok. Setiap kelompok terdiri dari tujuh peserta, sehingga total peserta yang terlibat mencapai kurang lebih 420 orang.
“Ke-19 ini kita menampilkan pawai budaya dan juga gerak jalan PBB. Pesertanya dari Tapen, Sukosari, dan Sumberwringin,” ujar Probo.
Menurutnya, Taring bukan sekadar kegiatan gerak jalan. Seiring berjalannya waktu, kegiatan tersebut berkembang menjadi sebuah ruang ekspresi masyarakat untuk memperkenalkan keberagaman budaya Nusantara melalui penampilan yang kreatif dan menarik.
Tahun ini, Taring mengusung konsep harmoni Nusantara dan modernisasi budaya. Konsep tersebut diwujudkan melalui berbagai penampilan peserta yang memadukan unsur budaya tradisional dengan kreativitas kekinian.
“Yang ingin kami tampilkan adalah harmoni Nusantara dan modernisasi budaya kepada masyarakat luas, khususnya masyarakat di tiga kecamatan,” jelasnya.
Probo menambahkan, pelaksanaan Taring di bulan Agustus juga menjadi momentum untuk memperkuat semangat kemerdekaan. Kegiatan tersebut sekaligus diharapkan menjadi hiburan bagi masyarakat serta sarana edukasi untuk mengenalkan kekayaan budaya Indonesia.
“Karena masih di bulan Agustus, dengan semangat kemerdekaan kita memberikan hiburan kepada masyarakat sekaligus edukasi terkait budaya yang ada di Nusantara,” katanya.
Ia menjelaskan, Taring memiliki sejarah panjang. Pada awalnya, kegiatan tersebut hanya berupa gerak jalan. Namun, karena terus berkembang dan mendapat antusiasme masyarakat, pawai budaya kemudian ditambahkan hingga menjadi salah satu bagian utama dalam pelaksanaan Taring.
“Awalnya Taring itu gerak jalan. Seiring berkembangnya waktu, kemudian ditambah dengan pawai budaya,” ungkap Probo.
Menurutnya, keberagaman budaya yang ditampilkan peserta menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Pada pelaksanaan sebelumnya, misalnya, peserta pernah mengangkat kisah budaya seperti Roro Jonggrang. Sementara pada tahun ini, sejumlah peserta kembali menghadirkan berbagai karakter dan nuansa budaya Nusantara, termasuk penampilan bernuansa Bali.
Tahun Ke- 19 pelaksanaan Taring menjadi bukti bahwa kegiatan tersebut mampu bertahan dan berkembang sebagai agenda yang dinantikan masyarakat. Tidak hanya menjadi ajang kebersamaan, Taring juga menjadi panggung kreativitas bagi masyarakat dari tiga kecamatan.
Di tengah pesatnya arus modernisasi, Probo berharap Taring dapat terus menjadi ruang untuk menjaga sekaligus mengenalkan budaya Nusantara kepada generasi muda.
Melalui perpaduan PBB, seni, kreativitas, dan pawai budaya, Taring diharapkan tidak hanya menjadi hiburan tahunan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya merawat kekayaan budaya Indonesia agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang. (Red)


