Wabup Bondowoso Ajak Semua Pihak Sukseskan Bongkar Ratoon, Produktivitas Tebu Jadi Kunci Swasembada Gula Nasional

Bondowoso, ulas.co.id – Pemerintah Kabupaten Bondowoso menegaskan komitmennya mendukung Program Strategis Nasional (PSN) Swasembada Gula 2026 melalui pelaksanaan panen bersama Program Bongkar Ratoon Tebu yang dirangkaikan dengan Zoom Meeting bersama Gubernur Jawa Timur, Kamis (18/6/2026), di Kecamatan Tapen.

Wakil Bupati Bondowoso, As’ad Yahya Safi’i, menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar panen atau peremajaan tanaman tebu, melainkan bagian dari agenda besar pemerintah dalam mewujudkan kedaulatan pangan nasional melalui swasembada gula.

“Kegiatan yang kita laksanakan hari ini merupakan bagian dari implementasi Program Strategis Nasional sektor pergulaan Tahun 2026. Swasembada gula bukan hanya persoalan produksi, tetapi juga menyangkut kedaulatan pangan bangsa. Ketika kebutuhan gula dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri, maka ketergantungan terhadap impor akan berkurang, stabilitas harga lebih terjaga, industri gula semakin kuat, dan kesejahteraan petani ikut meningkat,” ujar As’ad.

BACA JUGA: https://ulas.co.id/kadisdik-bondowoso-apresiasi-pagelaran-budaya-ini-budi-dorong-pendidikan-berbasis-budaya-sejak-dini/

Ia menegaskan, Pemerintah Kabupaten Bondowoso memberikan dukungan penuh terhadap kebijakan nasional melalui program bongkar ratoon dan perluasan areal tebu hingga tahun 2029.

Menurutnya, komitmen tersebut diwujudkan melalui penguatan sinergi seluruh perangkat daerah, optimalisasi peran penyuluh pertanian sebagai pendamping petani, pembangunan kemitraan yang sehat antara petani dan industri gula, pemanfaatan inovasi teknologi pertanian, serta penciptaan iklim investasi dan agribisnis tebu yang berkelanjutan.

As’ad menilai Bondowoso memiliki modal besar untuk menjadi salah satu pusat pertumbuhan industri gula di Jawa Timur karena didukung lahan yang sesuai, petani berpengalaman, kelembagaan petani yang terus berkembang, serta keberadaan PG Prajekan sebagai industri pengolahan gula.

“Saya mengajak seluruh pihak agar program bongkar ratoon ini tidak hanya menjadi pemenuhan target administratif, tetapi menjadi gerakan bersama untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing sektor tebu secara berkelanjutan,” katanya.

BACA JUGA: https://ulas.co.id/kadisparbudpora-bondowoso-apresiasi-gelar-budaya-ini-budi-dorong-pelestarian-budaya-sejak-dini/

Ia juga mengapresiasi Kementerian Pertanian RI, Sinergi Gula Nusantara (SGN), Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bondowoso, PG Prajekan, penyuluh pertanian, pemerintah kecamatan dan desa, kelompok tani hingga para petani tebu yang telah bekerja keras mendukung keberhasilan program tersebut.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Bondowoso, Mulyadi, menjelaskan bahwa Kabupaten Bondowoso memperoleh target pelaksanaan bongkar ratoon dan perluasan areal tebu seluas 2.352 hektare pada tahun 2026.

Hingga 18 Juni 2026, berdasarkan hasil verifikasi lapangan dan penyusunan Calon Petani Calon Lokasi (CPCL), realisasi program telah mencapai 797,789 hektare atau sekitar 33,92 persen dari target yang ditetapkan.

BACA JUGA: https://ulas.co.id/gelar-budaya-ini-budi-amarta-dewi-rengganis-bupati-bondowoso-tekankan-pentingnya-pelestarian-budaya-di-era-modernisasi/

Menurut Mulyadi, program bongkar ratoon menjadi langkah penting karena produktivitas tanaman tebu akan terus menurun apabila ratoon dipertahankan terlalu lama.

“Berdasarkan berbagai kajian teknis, kegiatan bongkar ratoon mampu meningkatkan produktivitas tebu antara 15 hingga 30 persen apabila diikuti penggunaan varietas unggul, pemupukan berimbang, serta penerapan budidaya yang baik,” jelasnya.

Meski demikian, ia mengakui pelaksanaan program masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan modal petani untuk melakukan peremajaan tanaman, kebutuhan benih varietas unggul, penyesuaian jadwal tanam dengan kondisi iklim, hingga penguatan kelembagaan petani.

Untuk mempercepat pencapaian target, DPKP Bondowoso terus melakukan pendampingan intensif melalui penyuluh pertanian, verifikasi CPCL secara berkelanjutan, memperkuat koordinasi dengan PG Prajekan, memfasilitasi penerapan teknologi budidaya, serta memperkuat kelembagaan kelompok tani.

BACA JUGA: https://ulas.co.id/wabup-bondowoso-serahkan-blt-dbhcht-di-pabrik-rokok-baskara-tekankan-manfaat-untuk-kesejahteraan-buruh/

Mulyadi juga menyampaikan kabar menggembirakan dari sektor pergulaan Bondowoso. Pada musim giling 2026, PG Prajekan menargetkan produksi gula sebesar 5,5 juta kuintal dengan rendemen rata-rata 7,62 persen, meningkat dibanding capaian tahun sebelumnya sebesar 7,01 persen.

“Peningkatan rendemen ini menunjukkan adanya perbaikan kualitas bahan baku tebu, penerapan teknologi budidaya yang semakin baik, serta sinergi yang kuat antara petani, pemerintah daerah, penyuluh, dan industri gula,” ujarnya.

Pemerintah Kabupaten Bondowoso optimistis target bongkar ratoon tahun 2026 dapat tercapai sehingga mampu meningkatkan produktivitas tebu rakyat, memperkuat daya saing industri gula nasional, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani sebagai pelaku utama pembangunan pertanian.

Penulis: Redaksi

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *