Hari Jadi Bondowoso dan Jejak Tirakat Ki Ronggo: Angka 17 yang Sarat Makna

BONDOWOSO, ulas.co.id – Hari Jadi Kabupaten Bondowoso yang diperingati setiap 17 Agustus memiliki keterkaitan sejarah dan nilai spiritual yang kuat. Tanggal tersebut bahkan bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.
Hal itu disampaikan Supriadi, keturunan kelima Raden Bagoes Asra atau Ki Ronggo Bondowoso, saat menjelaskan sejarah dan tradisi yang berkembang dalam keluarga Ki Ronggo, Senin (17/8/2026).
Menurut Supriadi keturunan ke 5 dari Raden Bagus Assra, Hari Jadi Bondowoso ditetapkan pada 17 Agustus 1819. Artinya, terdapat rentang waktu 126 tahun hingga Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.
“Jadi Hari Jadi Bondowoso itu tepatnya tanggal 17 Agustus 1819, sedangkan Hari Kemerdekaan tahun 1945, 17 Agustus 1945. Jadi setelah 126 tahun kemudian,” ujarnya.
Ia menjelaskan, angka 17 dalam sejarah Bondowoso tidak sekadar dipandang sebagai kebetulan. Dalam tradisi yang diwariskan keluarga, angka tersebut dikaitkan dengan perjalanan tirakat Ki Ronggo sebelum menjadi penguasa wilayah Bondowoso.
BACA JUGA: 270 Warga Binaan Lapas Bondowoso Terima Remisi Hut ke 81 Kemerdekaan Ri
Rumah Tahanan Bondowoso Kembangkan Produk Olahan Tempe Untuk Kemandirian Warga Binaan
Sebelum menjalankan tugas membuka wilayah baru, Raden Bagus Assra disebut menjalani tirakat selama 41 hari di kawasan yang kini dikenal sebagai Bondowoso. Pada masa itu, kawasan tersebut masih berupa wilayah yang belum berkembang seperti sekarang.
“Kalau orang dulu sebelum melaksanakan ibadah, ujian, melamar pekerjaan, melewati sekolah, pasti tirakat. Raden Bagoes Asra sebelum diangkat menjadi penguasa wilayah waktu itu juga tirakat di sini,” kata Supriadi.
Dalam cerita yang diwariskan secara turun-temurun, selama menjalani tirakat tersebut Ki Ronggo mendapatkan petunjuk dari Allah SWT. Angka 17 kemudian dikaitkan dengan sejumlah simbol penting dalam ajaran Islam, salah satunya jumlah rakaat salat wajib dalam sehari semalam yang berjumlah 17 rakaat.
Selain itu, angka 17 juga dikaitkan dengan turunnya Al-Qur’an pada 17 Ramadan.
“Yang diambil itu angka 17. Akhirnya Hari Jadi Bondowoso 17 Agustus. Kemudian 126 tahun setelahnya, Hari Kemerdekaan Indonesia juga 17 Agustus 1945,” tuturnya.
Supriadi menyebut keterkaitan tersebut menjadi bagian dari cerita sejarah keluarga yang terus disampaikan kepada generasi berikutnya. Ia juga mengaitkannya dengan sosok Soekarno yang dikenal memiliki tradisi tirakat sebelum mengambil keputusan-keputusan penting.
Menurutnya, kesamaan angka tersebut menjadi sesuatu yang menarik untuk terus dikaji, terutama oleh generasi muda, mahasiswa, maupun masyarakat yang ingin mengetahui sejarah awal berdirinya Bondowoso.
BACA JUGA: Kebakaran Rumah di Tlogosari Kerugian Ditaksir Rp350 Juta
Harjabo ke 207 di Pusara Ki Ronggo Bupati Abdul Hamid Wahid Tekankan Pentingnya Merawat Sejarah
Ia juga menunjukkan adanya dokumen lama peninggalan Belanda yang menurutnya menjadi salah satu bahan penting dalam penelusuran sejarah Bondowoso.
“Ini bukan baru sekarang. Sudah ratusan tahun. Ada koran Belanda juga. Makanya saya tekankan kepada siapa saja yang datang, termasuk mahasiswa, supaya sejarah ini terus dipelajari,” jelasnya.
Awal Perjalanan Ki Ronggo Membuka Bondowoso
Lebih jauh, Supriadi menjelaskan bahwa sebelum dikenal sebagai penguasa Bondowoso, Raden Bagoes Asra mendapat tugas dari Bupati Besuki untuk membuka wilayah baru.
Perjalanan tersebut tidak hanya dimaknai sebagai pembukaan wilayah, tetapi juga sebagai bagian dari penyebaran Islam dan pembentukan permukiman baru.
Dalam kisah keluarga, perjalanan Ki Ronggo dimulai dari wilayah Besuki menuju kawasan Beringin. Di sejumlah tempat, ia disebut menanam pohon sebagai penanda perjalanan, termasuk di kawasan yang kemudian dikenal dengan nama tertentu sesuai dengan peristiwa yang terjadi di lokasi tersebut.
Perjalanan kemudian berlanjut hingga kawasan Mandiro. Di sana, Ki Ronggo disebut menancapkan umbul-umbul dan beristirahat.
Dari rangkaian perjalanan tersebut, muncul cerita mengenai asal-usul nama Bondowoso.
“Kalau menurut keluarga, nama Bondowoso itu ada ceritanya. Ketika sampai di sini, menancapkan umbul-umbul, istirahat, makan bersama. Dari situ mungkin kata Bondowoso terinspirasi atau diambil,” ujar Supriadi.
Namun, ia juga menyampaikan versi lain yang berkembang di masyarakat mengenai asal-usul nama Bondowoso, yakni keterkaitannya dengan tokoh Bandung Bondowoso dalam cerita tradisional Jawa.
Nama tersebut kemudian menjadi bagian dari identitas wilayah yang hingga kini dikenal sebagai Kabupaten Bondowoso.
Bagi Supriadi, sejarah Bondowoso tidak hanya berkaitan dengan tanggal berdirinya sebuah wilayah. Di dalamnya terdapat perjalanan spiritual, perjuangan membuka wilayah, penyebaran Islam, serta warisan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Karena itu, momentum 17 Agustus menurutnya menjadi kesempatan penting untuk kembali mengingat sejarah tersebut.
“Jangan hanya melihat 17 Agustus sebagai tanggal. Ada sejarah panjang di baliknya yang perlu diketahui generasi sekarang,” pungkasnya.
Penulis: Redaksi


