Tiga Juri Lomba Inovasi Limbah Kopi Bondowoso Soroti Keberlanjutan: Jangan Berhenti Setelah Lomba

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Bondowoso dan Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Bondowoso serta Ketua Komunitas Sarka Space Bondowoso saat usai menilai lompa inovasi limbah kopi (foto dok: Yusi Ulas.co.id)
BONDOWOSO, ulas.co.id — Lomba inovasi pemanfaatan limbah kopi di Bondowoso tidak sekadar melahirkan beragam produk kreatif. Di balik karya-karya yang dinilai menarik dan memiliki potensi ekonomi, para juri justru menemukan pekerjaan rumah yang lebih besar, yakni memastikan inovasi tersebut tidak berhenti setelah kompetisi berakhir.
Sebanyak 14 peserta mengikuti proses penilaian yang dilakukan oleh tiga juri, yakni Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bondowoso Henry Kurniawan, Kepala SMA Negeri 2 Bondowoso Holifah Nurazizah, serta Ketua Komunitas Sarka Space Ahmad Qurqesy, Rabu (2/9/2026).
Penilaian dilakukan berdasarkan enam indikator utama, meliputi pemanfaatan limbah kopi, kreativitas dan inovasi, ramah lingkungan dan keberlanjutan, fungsi dan manfaat, nilai ekonomi serta potensi pasar, dan estetika desain.
BACA JUGA: Kulit Kopi Disulap Jadi Produk Bernilai Dpkp Bondowoso Gelar Lomba Inovasi Limbah Kopi
Henry Kurniawan mengatakan, keberagaman latar belakang peserta menjadi salah satu hal menarik dalam lomba tersebut. Peserta tidak hanya berasal dari kalangan penggiat kopi, tetapi juga akademisi, praktisi, hingga barista.
Menurutnya, sejumlah gagasan yang ditampilkan bahkan berada di luar ekspektasi awal penyelenggara. Kreativitas peserta menunjukkan bahwa limbah kopi masih memiliki ruang yang sangat luas untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.
Namun, di balik apresiasi tersebut, Hendri menekankan pentingnya aspek orisinalitas dan legalitas produk.
Juri harus memastikan bahwa inovasi yang dipresentasikan benar-benar merupakan karya peserta, bukan sekadar hasil replikasi dari produk yang sudah ada.
“Yang kita tanyakan, ini benar-benar inovasi atau sudah replikasi. Segi inovasinya apa, kemudian apakah sudah ada legalitas bahwa ini karya original,” jelas Henry.
Dari proses penilaian, diketahui sebagian peserta masih berada pada tahap prototipe. Bahkan, belum ada peserta yang memiliki kelengkapan legalitas produk secara menyeluruh.
Menurut Henry, kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah penting apabila inovasi pemanfaatan limbah kopi ingin dikembangkan menjadi produk yang mampu menembus pasar.
BACA JUGA: Sekda Bondowoso Karhutla Tak Bisa Hanya Ditangani Damkar Semua Elemen Harus Bergerak
Sementara itu, Holifah Nurazizah menyoroti persoalan lain yang tidak kalah penting, yakni seberapa besar inovasi yang dihasilkan mampu memberikan dampak nyata terhadap pengurangan limbah kopi.
Menurutnya, pemanfaatan limbah tidak cukup hanya menghasilkan produk yang menarik secara visual atau memiliki nilai jual. Inovasi harus mampu menjawab persoalan limbah secara lebih luas dan memberikan manfaat yang terukur.
“Yang kita butuhkan inovasi yang bisa mengurangi banyak sekali limbah,” ujarnya.
Ia melihat sebagian besar inovasi peserta masih berfokus pada pemanfaatan ampas kopi. Padahal, limbah kopi memiliki cakupan yang jauh lebih luas, mulai dari kulit kopi hingga bagian lain dari tanaman kopi yang berpotensi belum termanfaatkan secara optimal.
Karena itu, inovasi ke depan diharapkan tidak hanya menghasilkan produk baru, tetapi juga mampu memberikan solusi terhadap persoalan limbah dalam skala yang lebih besar.
Di sisi lain, Ahmad Qurqesy, Ketua Komunitas Sarka Space, melihat lomba tersebut sebagai momentum untuk mendorong tumbuhnya konsep ekonomi sirkular (circular economy) di Bondowoso.
Menurutnya, berbagai produk yang dihasilkan peserta memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut. Namun, produk yang menarik pada tahap prototipe belum otomatis siap diproduksi dan dipasarkan secara luas.
Masih dibutuhkan dukungan investor, pengembangan teknologi, peningkatan kapasitas produksi, pengujian kualitas, hingga pembuktian kelayakan pasar.
“Inginnya tentu circular economy-nya bisa jalan, tetapi memang butuh investor dan orang lain untuk mengembangkannya,” ujar Ahmad.
BACA JUGA: Dokumen Mcp Kpk Bondowoso Turun Drastis Inspektorat Bukti Dukung Kini Harus Lebih Spesifik
Ia menilai kolaborasi menjadi faktor penting agar inovasi tidak berhenti sebagai karya lomba. Peserta membutuhkan ekosistem yang mampu mempertemukan inovator dengan investor, pelaku usaha, akademisi, pemerintah, serta pihak lain yang memiliki kemampuan untuk membantu pengembangan produk.
Ketiga juri pada akhirnya memiliki pandangan yang sama: lomba bukanlah garis akhir.
Justru setelah kompetisi selesai, tantangan sesungguhnya dimulai. Produk-produk tersebut harus mampu melewati tahap pengembangan, memenuhi aspek legalitas dan kualitas, masuk ke pasar, direplikasi atau dikembangkan masyarakat, serta memberikan dampak nyata terhadap pengurangan limbah kopi.
Mereka berharap lomba inovasi pemanfaatan limbah kopi tidak berhenti sebagai agenda seremonial tahunan yang berakhir setelah pengumuman pemenang dan pemberian penghargaan.
Sebab, apabila hanya berhenti pada kompetisi, potensi besar limbah kopi sebagai sumber ekonomi baru bagi masyarakat Bondowoso berisiko kembali menjadi pekerjaan rumah.
Pesan yang ingin ditegaskan para juri pun jelas: inovasi tidak cukup hanya mampu mengubah limbah menjadi produk, tetapi harus mampu mengubah produk menjadi nilai ekonomi sekaligus menghadirkan perubahan nyata bagi lingkungan dan masyarakat.
“Harapannya tidak hanya setelah lomba selesai, selesai juga. Ada kelanjutan yang sesuai dengan tagline Bondowoso, bisa membawa berkah untuk masyarakat Bondowoso,” tegasnya. (Red)


