Kulit Kopi Disulap Jadi Produk Bernilai, DPKP Bondowoso Gelar Lomba Inovasi Limbah Kopi

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Bondowoso Mulyadi saat dikonfirmasi beberapa media (foto dok: Yusi Ulas.co.id)
BONDOWOSO, ulas.co.id — Limbah kulit kopi selama ini identik dengan sisa produksi yang terbuang dan belum dimanfaatkan secara optimal. Namun, pandangan tersebut mulai diubah oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Bondowoso melalui lomba inovasi pemanfaatan limbah kulit kopi dalam rangkaian Festival Kopi Nusantara.
Kegiatan yang digelar tersebut tidak sekadar menjadi ajang perlombaan. DPKP Bondowoso ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa kulit kopi dapat diolah menjadi berbagai produk yang memiliki nilai tambah, bahkan berpotensi menjadi sumber ekonomi baru.
Kepala DPKP Bondowoso, Mulyadi, mengatakan gagasan lomba tersebut berangkat dari kondisi masih banyaknya limbah kulit kopi yang belum dimanfaatkan secara maksimal.
Menurutnya, limbah kulit kopi yang selama ini kerap ditemukan berserakan justru memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk inovatif apabila mendapatkan sentuhan kreativitas dan teknologi.
“Kita ingin mengedukasi masyarakat terkait dengan limbah. Kita tahu sendiri banyak limbah di jalan-jalan, terutama kulit kopi. Sehingga muncul inisiatif agar limbah kopi ini bisa bermanfaat dan menghasilkan sesuatu yang memiliki nilai tambah,” ujar Mulyadi, Rabu (2/9/2026).
Antusiasme peserta dalam lomba tersebut bahkan disebut melampaui perkiraan panitia. Hingga hari terakhir pendaftaran, tercatat sekitar 14 peserta ikut ambil bagian.
Peserta tidak hanya berasal dari Kabupaten Bondowoso, tetapi juga datang dari sejumlah daerah lain, di antaranya Jember dan Lumajang.
Menariknya, peserta lomba berasal dari berbagai latar belakang. Selain masyarakat umum, terdapat pula akademisi, termasuk kalangan pascasarjana, yang membawa inovasi berbasis hasil penelitian ilmiah.
BACA JUGA: Sekda Bondowoso Karhutla Tak Bisa Hanya Ditangani Damkar Semua Elemen Harus Bergerak
Keberagaman latar belakang tersebut membuat kualitas dan pendekatan inovasi yang diajukan peserta cukup beragam. Karena itu, DPKP menghadirkan dewan juri yang dinilai memiliki kompetensi di bidangnya.
“Banyak yang ilmiah. Semestinya kita harus melaksanakan dengan kategori, sehingga tidak memungkinkan seorang akademisi bersaing dengan masyarakat pada umumnya. Tetapi alhamdulillah dewan juri yang kita datangkan kompeten, dari profesional, akademisi, dinas sendiri dan DLH,” jelasnya.
Beragam inovasi pun muncul dalam lomba tersebut. Kulit kopi tidak hanya dimanfaatkan menjadi produk sederhana, tetapi dikembangkan menjadi berbagai produk turunan yang memiliki nilai guna.
Sejumlah peserta mengolah limbah kulit kopi menjadi tas, sementara peserta lainnya mengembangkan produk kosmetik seperti lipstik dan pelembap wajah. Ada pula yang mengolahnya menjadi minuman hingga media seduh.
Mulyadi menilai keberagaman produk tersebut menjadi bukti bahwa kulit kopi memiliki potensi ekonomi yang cukup besar apabila dikelola dengan kreativitas dan teknologi yang tepat.
“Kalau dari seluruh peserta, semua produknya bermanfaat. Ada yang menjadi tas, kosmetika seperti lipstik dan pelembap wajah, ada yang menjadi minuman, ada juga yang menjadi media seduh,” katanya.
BACA JUGA: Dokumen Mcp Kpk Bondowoso Turun Drastis Inspektorat Bukti Dukung Kini Harus Lebih Spesifik
Dari sekitar 14 peserta yang mengikuti lomba, nantinya akan dipilih tiga inovasi terbaik sebagai pemenang.
Meski demikian, DPKP Bondowoso belum memastikan produk yang keluar sebagai juara akan secara otomatis mendapatkan fasilitasi pemasaran maupun diarahkan masuk ke sektor UMKM.
Mulyadi menegaskan, tujuan utama kegiatan tersebut saat ini adalah memberikan edukasi sekaligus membuka wawasan masyarakat mengenai potensi pemanfaatan limbah kulit kopi.
Hasil inovasi para peserta nantinya akan disosialisasikan kepada masyarakat sebagai contoh nyata bahwa limbah kopi tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga dapat diubah menjadi produk yang memiliki nilai tambah.
“Ini mengedukasi masyarakat. Hasil lomba inovasi ini nanti kita sosialisasikan kepada masyarakat bahwa ini bukti dari limbah bisa menghasilkan hal yang lebih,” pungkasnya.
Melalui lomba tersebut, DPKP Bondowoso berharap terjadi perubahan cara pandang terhadap limbah kulit kopi. Bahan yang selama ini dianggap sebagai sesuatu yang harus dibuang mulai didorong untuk dilihat sebagai bahan baku potensial yang dapat menghasilkan produk bernilai ekonomi.
Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari mendorong pengelolaan komoditas kopi secara lebih berkelanjutan, dari sektor produksi hingga pemanfaatan limbahnya. (Red)


