Viral Video Roti Gepeng, SPPG Bondowoso Angkat Bicara: “Kami Libatkan UMKM, Tanpa Pengawet dan Kimia!”

Menu makanan bergizi gratis tanpa pengawet dan libatkan pelaku UMKM Lokal Bondowoso
Bondowoso, Ulas.co.id – Sebuah video yang menampilkan keluhan terkait roti gepeng dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) ramai beredar di media sosial dan sempat menimbulkan spekulasi di kalangan warganet. Namun pihak pelaksana program, khususnya Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Tegal Pasir, Jambesari, Bondowoso, langsung memberi klarifikasi tegas.
Baca juga: https://ulas.co.id/inces-magdalena-lina-owner-sppg-mitra-mandiri-tegal-pasir-hadiri-hut-tni-ke-80-di-bondowoso/
Incess Lina, sapaan akrab Lina Tri Puspita Sudarmo Putri, penanggung jawab Mitra Mandiri Magdalena ABK Group selaku owner SPPG wilayah Jambesari, menepis tudingan tersebut dengan lugas. Ia menegaskan bahwa distribusi roti dalam program MBG telah memenuhi standar gizi dan kualitas, bahkan dipasok langsung oleh UMKM lokal yang sudah diseleksi secara ketat.
“Kami justru dari awal sudah punya standar jelas. Roti yang disalurkan harus tanpa pengawet, tanpa bahan kimia, dan dipastikan dibuat maksimal satu hari sebelum dikonsumsi,” tegas Incess Lina, Sabtu (11/10/2025).
Menanggapi video yang menyebut ada roti gepeng di SDN Grujugan Lor 01, Teh Lina menjelaskan bahwa pihaknya tidak pernah mendistribusikan roti dalam kondisi rusak atau tidak layak konsumsi. Ia bahkan menyayangkan beredarnya video tanpa konfirmasi langsung ke pihak sekolah maupun tim mitra SPPG.
“Kalau memang roti gepeng itu dari kami, maka semua pasti gepeng. Tapi ini tidak. Kami anggap ini hanya sentimen dan tidak berdasar. Kami terbuka untuk kritik, tapi seharusnya disampaikan lewat jalur komunikasi yang benar, bukan viral-viral-an tanpa klarifikasi,” tambahnya.
Baca juga: https://ulas.co.id/koordinasi-dan-pengawasan-ketat-kunci-optimalnya-mbg-di-tegal-pasir-jambesari/
UMKM Jadi Pilar, Kualitas Tetap Jadi Prioritas
Incess Lina menekankan bahwa keterlibatan UMKM dalam program MBG bukan semata soal pemerataan ekonomi, tapi juga soal kualitas dan kedekatan rantai produksi. Dengan begitu, kontrol terhadap mutu produk bisa lebih ketat dan distribusi lebih efisien.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya kenyang, tapi juga sehat. Makanya kami pilih UMKM yang bisa jaga standar. Bukan sekadar asal kirim,” jelasnya.
Program MBG: Bukan Cuma Gizi, Tapi Juga Gerakkan Ekonomi Lokal
Di luar polemik roti gepeng, program MBG di Bondowoso ternyata memberi dampak ekonomi yang signifikan. Puluhan ton buah lokal seperti semangka dan melon kini terserap setiap hari, berkat kerja sama SPPG dengan pedagang dan petani lokal.
Rian, pengepul buah asal Bondowoso, mengaku merasakan langsung efek domino dari program ini.
“Dulu buah kami dikirim ke luar daerah, sekarang langsung habis diserap program MBG. Petani dan pedagang semua ikut kecipratan rezeki,” ujar Rian.
Baca juga: https://ulas.co.id/momen-hut-tni-ke-80-dandim-cup-2025-dari-turnamen-biliar-ke-peta-prestasi-internasional/
Program MBG, yang merupakan inisiatif Presiden Prabowo Subianto, terus didorong sebagai strategi gizi nasional sekaligus upaya pemberdayaan ekonomi rakyat.
Kesimpulan: Kritik Yes, Hoaks No
Baca juga: https://ulas.co.id/sppg-tegal-pasir-jambesari-mitra-mandiri-magdalena-abk-group-jadi-role-model-nasional-kolaborasi-dan-komitmen-jadi-percontohan-di-bondowoso/
Program MBG di Bondowoso menunjukan bahwa sinergi antara gizi dan ekonomi bisa berjalan beriringan. Namun, di tengah upaya besar ini, disinformasi seperti video roti gepeng bisa mengaburkan esensi dari program yang dijalankan dengan serius dan transparan.
“Silakan kritik, kami terbuka. Tapi jangan sampai menyebar hoaks yang bisa merugikan semua pihak, termasuk anak-anak yang jadi penerima manfaat,” pungkasnya.(yus)







