Bondowoso Bangkit Lewat Panggung: Sound of Ijen Caldera 2025 Jadi Model Baru Pembangunan Berbasis Pariwisata

Bupati bondowoso bersama Sekda Kapolres dan kepala OPD saat sambutan (foto dok: Yudi Ulas.co.id)

Bondowoso, Ulas.co.id — Di tengah gempuran pembangunan yang sering kali timpang dan berpusat di kota, Bondowoso diam-diam menciptakan formula baru: membangun dari desa, lewat musik dan alam. Sound of Ijen Caldera 2025 bukan hanya festival musik. Ia adalah strategi pembangunan daerah yang menjadikan pariwisata sebagai alat distribusi kesejahteraan.

Dari Dusun Linggusari, Desa Rejo Agung, suara gitar dan lampu panggung bukan sekadar simbol perayaan. Ia adalah bukti bahwa kesenjangan pusat-daerah bisa dijembatani, ketika masyarakat dilibatkan, dan kebijakan berpihak pada akar rumput.

“Event ini bukan hanya hiburan, tapi bentuk keberpihakan. Kami tidak ingin pusat-pusat ekonomi hanya di kota. Desa harus punya panggungnya sendiri,” tegas Bupati Bondowoso, Abd. Hamid Wahid.

Dari Dusun Jadi Destinasi: Kekuatan Komunitas Menjawab Tantangan.
Pemilihan Teduh Glamping sebagai lokasi baru menjadi simbol perubahan cara pandang. Yang dulunya hanya lokasi perkemahan sederhana, kini menjadi prototipe destinasi mandiri yang dikelola warga.

Menurut Plt. Kepala Disparbudpora Bondowoso, Andrie Antonio Zola, ini adalah bentuk penghargaan terhadap desa yang bekerja keras menjaga kebersihan, kenyamanan, dan kualitas layanannya.

“Kita ingin tunjukkan bahwa desa yang konsisten merawat lingkungannya harus mendapat panggung yang setara dengan destinasi besar lainnya,” ujar Zola.

Dan hasilnya nyata: lebih dari 2.000 pengunjung hadir, tak hanya membawa senyum, tapi juga menggerakkan roda ekonomi mikro dari parkir warga, UMKM kuliner.

Dengan daya tampung maksimal 3.000 orang, tidak ada yang merasa tersingkir. Semua dilibatkan, semua mendapat tempat.

Musik sebagai Pemantik, Bukan Tujuan Akhir

Penampilan Trisuaka dan Nabila Maharani memang menjadi magnet. Tapi kekuatan utama festival ini bukan pada artisnya, melainkan pada struktur sosial di baliknya. Musik hanya menjadi jembatan yang menghubungkan desa dengan dunia luar.

“Kami ingin setiap orang yang datang, pulang dengan cerita tentang desa yang bisa berdiri di atas kaki sendiri,” ungkap Camat Sumberwringin, Probo Nugroho.

Dan hasilnya nyata: lebih dari 2.000 pengunjung hadir, tak hanya membawa senyum, tapi juga menggerakkan roda ekonomi mikro—dari parkir warga, UMKM kuliner, hingga penginapan lokal.

Festival sebagai Ekonomi Mikro yang Bergerak

Tak seperti festival besar di kota yang hanya menguntungkan segelintir pihak, Sound of Ijen Caldera 2025 menciptakan ekosistem ekonomi lokal. Setiap rumah bisa jadi tempat parkir, setiap halaman jadi warung, dan setiap warga punya peran.

“Bagi kami, ini bukan sekadar hiburan. Ini rezeki. Kami menyiapkan dari pagi. Anak-anak muda jaga parkir, ibu-ibu jual makanan,” ungkap salah satu pelaku UMKM setempat. (Yus)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *