Lapas Bondowoso Laksanakan Skrining TBC Massal: Komitmen Negara Tak Kenal Sekat Bagi Hak Kesehatan Warga Binaan

Kalapas IIB Bondowoso Nunus Ananto didampingi  dr. Lioner Q.R saat acara pemeriksaan pencegahan TBC terhadap warga binaan Narapidana (foto dok: Yusi Ulas.co.id)

Bondowoso, Ulas.co.id – Dalam langkah monumental yang mencerminkan komitmen negara terhadap hak kesehatan seluruh warga negara tanpa diskriminasi, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Bondowoso hari ini menggelar kegiatan skrining TBC massal bagi seluruh warga binaan laki dan perempuan. Selasa (21/10/2025).

Baca juga: https://ulas.co.id/bondowoso-menuju-nol-tbc-komitmen-daerah-ditegaskan-audit-bpk-disambut-dengan-optimisme/

Kegiatan ini merupakan bagian dari agenda nasional Kementerian imigrasi dan pemasyarakatan, secara teknis dilaksanakan oleh PT Cito Putra Utama, didampingi tenaga medis dari Puskesmas Kota Kulon, Dinas Kesehatan, serta tim medis internal Lapas.

419 Warga Binaan Discreening, Tanpa Terkecuali. Dalam sambutannya, Kepala Lapas Bondowoso Nunus Ananto menegaskan, bahwa skrining ini tidak hanya menyasar sebagian, tetapi dilakukan kepada seluruh warga binaan laki laki dan perempuan total 419 orang, melebihi target awal sebanyak 384 orang.

Baca juga: https://ulas.co.id/dpd-partai-golkar-bondowoso-tegaskan-komitmen-pelayanan-aspirasi-masyarakat-tanpa-libur/

“Kami ingin semua mendapatkan hak yang sama. Tidak boleh ada yang terlewat. Karena satu saja yang luput bisa menjadi titik penyebaran. Alhamdulillah semua pihak mendukung,” tegasnya.

Nunus juga menegaskan, bahwa meski warga binaan menjalani pidana, status mereka sebagai warga negara Indonesia tetap melekat, termasuk hak atas layanan kesehatan yang layak.

“Arahan Bapak Presiden jelas: pelayanan kesehatan untuk semua. Warga binaan tetap manusia, tetap rakyat Indonesia. Kami jalankan itu sebaik mungkin,” imbuhnya.

Baca juga: https://ulas.co.id/pemkab-bondowoso-salurkan-bantuan-202-unit-alat-pertanian-dukung-mekanisme-dan-ketahanan-pangan/

Hasil pemeriksaan rontgen langsung dikonsultasikan ke specialis radiologi secara online real-time melalui sistem vendor. Pemeriksaan dahak diprediksi memakan waktu sekitar tiga hari, tergantung antrean laboratorium rujukan.

Warga binaan lapas IIB Bondowoso saat lakukan pemeriksaan pencegahan penyakit TBC (foto dok: Yusi Ulas.co.id)

Penanganan Khusus: Isolasi Medis Bukan Sel Straf. Jika ditemukan kasus positif, warga binaan akan menjalani isolasi medis, bukan sel khusus, sebagai bentuk perlakuan berbasis kemanusiaan dan kesehatan. Penempatan kamar akan disesuaikan dengan skala dan tingkat infeksi.

Baca juga: https://ulas.co.id/bondowoso-funbike-2025-meriahkan-hut-ke-80-tni-4-000an-kupon-ludes-terjual/

Baca juga: https://ulas.co.id/bondowoso-fun-bike-2025-incess-magdalena-abk-group-tunjukkan-semangat-emas-di-hut-tni-ke-80/

“Isolasi ini untuk memastikan pengobatan berjalan efektif tanpa menyebar ke warga binaan lain. Kami tegaskan, ini bukan hukuman tambahan, tapi perawatan medis,” tegas Kalapas.

Pencegahan Jadi Budaya: Hidup Bersih & Sehat di Balik Jeruji.
Selain upaya kuratif, Lapas Bondowoso juga menjadikan gaya hidup sehat sebagai bagian dari pembinaan. Kamar rutin dibersihkan, barang-barang tak perlu dikeluarkan, sirkulasi udara diatur, serta aktivitas berjemur pagi hari diwajibkan sebagai langkah pencegahan.

“Kesehatan bukan hanya soal pengobatan, tapi soal budaya. Kami bentuk budaya hidup bersih dan sehat. Lebih baik mencegah daripada mengobati,” ujar Kalapas.

Baca juga: https://ulas.co.id/perhutani-kph-bondowoso-ikuti-apel-kesiapsiagaan-dan-gelar-peralatan-hadapi-bencana-hidrometeorologi/

Skrining Aman, Pengamanan Maksimal. Mengantisipasi kompleksitas pelaksanaan kegiatan menyeluruh di dalam lapas, kegiatan ini juga didukung pengamanan ketat, bekerja sama dengan aparat kepolisian. Koordinasi dilakukan langsung berdasarkan instruksi dari Kementerian.

Pendekatan Holistik: Dari Gejala, Rontgen hingga Tes Dahak. dr. Lioner Q.R., yang memimpin tim skrining, menjelaskan bahwa pendekatan dilakukan secara komprehensif. Skrining dimulai dengan deteksi gejala klinis, kemudian dilanjutkan dengan rontgen thorax dan, bila diperlukan, tes dahak.

“Gejala seperti penurunan berat badan meskipun makan cukup, keringat malam, dan penurunan aktivitas menjadi indikator awal. Jika dari rontgen ditemukan indikasi TBC, maka kita lanjutkan ke pemeriksaan dahak sebagai standar emas diagnosis,” terang dr. Lioner.

Baca juga: https://ulas.co.id/bupati-hamid-wahid-dan-plt-kepala-bpbd-bondowoso-pimpin-apel-kesiapsiagaan-bencana/

Negara Hadir: TBC Bisa Disembuhkan, Hak Kesehatan Harus Dijamin.

Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa negara hadir, bahkan di balik jeruji. Penyakit menular seperti TBC tidak mengenal status sosial, dan karenanya, penanganan harus menyeluruh dan tanpa stigma.

“TBC bisa disembuhkan. Tapi lebih dari itu, kami ingin menyampaikan pesan bahwa hak kesehatan bukan hak istimewa, itu hak dasar setiap manusia. Bahkan mereka yang sedang menjalani pidana,” tutup dr. Lioner. (Yus)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *