Bondowoso Terang, Masa Depan Gemilang: 498 Rumah Tangga Kini Menyala, Target 5.000 Sambungan Listrik Segera Terealisasi

Sekretaris Daerah (Sekda) Bondowoso bersama Ketua Komisi II DPRD Bondowoso saat usai acara (foto dok: Yusi Ulas.co.id)
Bondowoso, Ulas.co.id – Pemerintah Kabupaten Bondowoso kembali menorehkan langkah nyata dalam membangun keadilan energi bagi seluruh warganya. Melalui program unggulan “Menyala” sebanyak 498 rumah tangga di wilayah pelosok kini resmi mendapatkan sambungan listrik gratis, menandai satu lagi tonggak penting dalam perjuangan mewujudkan Bondowoso yang terang dan sejahtera.
Program ini menjadi salah satu prioritas utama Bupati Bondowoso, melalui Sekretaris Daerah (Sekda) Fathur Rozi menyatakan, sebagai wujud kepedulian terhadap masyarakat yang selama ini belum merasakan terang listrik di rumah mereka. Tak hanya berhenti di situ, Pemerintah Kabupaten bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur tengah mengawal realisasi target besar 5.000 sambungan rumah tangga hingga tuntas.
“Kita tetap berpikir positif, bahwa target 5.000 sambungan ini bisa segera terwujud. Ada yang 450 VA, ada yang 900 VA. Dan yang paling penting: semuanya gratis,” ujar Sekda Bondowoso dengan penuh optimisme.
Lebih dari sekadar menghadirkan terang di malam hari, kehadiran listrik ini membawa makna yang jauh lebih dalam, membangun masa depan anak-anak Bondowoso.
“Listrik ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin, apalagi untuk kepentingan belajar anak-anak. Mereka adalah investasi masa depan. Harapan kita, ini menjadi pemicu perubahan besar bagi Bondowoso,” Jelas Fathur Rozi.
Tak Hanya Rumah Tangga, Jalanan Pun Akan Menyala.
Tak hanya untuk rumah warga, sambungan listrik ini juga diperluas untuk penerangan jalan umum, sebagai bagian dari upaya mewujudkan keamanan dan kenyamanan publik, terutama di malam hari.
Kendala Tak Menyurutkan Langkah
Meski upaya ini dihadapkan pada berbagai tantangan, mulai dari kondisi geografis, keterbatasan infrastruktur seperti tiang listrik, hingga kebiasaan masyarakat yang masih menumpang listrik dari tetangga, pemerintah tak gentar.
“Masih ada sekitar 31 dusun yang belum tersambung. Kami maksimalkan fungsi fasilitasi. Memang tidak semua kendali ada di kabupaten, karena ini wewenang provinsi. Tapi kami pastikan, tugas kami mengawal dan menyisir wilayah yang belum tersentuh,” paparnya.
Bukti Pemerintah Hadir. Program “Menyala” bukan sekadar proyek fisik, tetapi simbol kehadiran pemerintah di tengah masyarakat. Ini adalah tentang keadilan, tentang harapan, dan tentang memastikan bahwa setiap anak di Bondowoso tanpa terkecuali bisa belajar, tumbuh, dan bercita-cita di rumah yang terang.

Sementara itu H. Tohari Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Bondowoso menjelaskan, bahwa Program “Bondowoso Menyala” kembali menunjukkan hasil nyata. Sebanyak 498 rumah tangga tidak mampu kini menikmati sambungan listrik gratis berkat kerja keras lintas sektor mulai dari DPRD, Pemkab, Pemprov, hingga Pemerintah Pusat dan PLN.
Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Bondowoso menegaskan, bahwa meskipun secara regulasi daerah dilarang mengalokasikan APBD untuk pembangunan jaringan atau bantuan KWH meter, pihaknya tidak tinggal diam.
“Sejak 2004 sampai 2020 sebenarnya Bondowoso menganggarkan bantuan untuk jaringan listrik dan KWH meter. Tapi karena Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2014, hal itu tidak diperkenankan. Maka kami sekarang mengandalkan APBN, APBD Provinsi, dan PLN. Tapi yang pasti, kami tidak menunggu. Kami bergerak,” Terangnya.
Langkah cepat berdasarkan data nyata, Komisi II DPRD telah memiliki data valid, 5.000 (Lima ribu) rumah tangga yang layak menerima bantuan listrik, lengkap dengan identitas dan alamat (by name by address). Data ini terus diperbarui karena kebutuhan yang terus berkembang.
“Jangan pikir selesai di 5.000. Hari ini ada warga miskin menikah, lahirlah rumah tangga baru tanpa listrik. Ini realitas yang tidak pernah statis, ” Katanya.
DPRD bersama eksekutif terus mendorong agar data ini menjadi dasar perencanaan lintas instansi, dan agar tidak ada satu pun warga yang tertinggal dari akses energi.
“31 Dusun Masih Tertinggal, Tapi tetap kami kawal,” tegasnya.
Ketua Komisi II juga menyoroti adanya 31 dusun yang masih belum teraliri listrik karena kendala geografis dan infrastruktur, seperti kekurangan tiang dan wilayah yang sangat pelosok, contohnya di kawasan Tol-Tol.
“Kami tidak tinggal diam. Kami sudah komunikasikan ini ke DPR RI, ke DPRD Provinsi, dan juga ke PLN. Ini bukan hanya pekerjaan pusat, ini komitmen bersama. DPRD akan kawal ini sampai tuntas,” ucapnya.
Setiap rumah yang tersambung, lanjut H. Tohari. Itu mendapatkan fasilitas komplet, mulai dari kabel, saklar, lampu, hingga token awal. Program ini menyasar rumah tangga yang benar-benar tidak mampu, dan seleksinya dilakukan secara ketat.
“Listrik ini bukan hanya soal terang. Ini soal akses pendidikan anak-anak, kesehatan, dan martabat keluarga. Kami pastikan, program ini tepat sasaran,” tegasnya.
H. Tohari juga mengingatkan agar bantuan ini digunakan dengan bijak dan tidak boros, karena ini adalah fasilitas yang harus dijaga agar bermanfaat jangka panjang.
“Bondowoso Menyala bukan slogan, tapi gerakan. Kami di DPRD akan terus kawal, karena terang adalah hak semua rakyat,” Pungkasnya. (Yus)







