Bondowoso Jadi Pusat Kolaborasi Internasional, ICD 2026 Perkuat Pemberdayaan Desa Berbasis Geopark 

Bondowoso, Ulas.co.id  – Kabupaten Bondowoso kembali menegaskan posisinya sebagai laboratorium pembangunan desa berbasis potensi lokal dan kolaborasi global. Hal ini ditandai dengan pelaksanaan Opening Ceremony International Community Development (ICD) 2026 yang digelar di Desa Kalianyar, Kecamatan Ijen, bekerja sama dengan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan didukung pendanaan LPDP. Kamis (05/02/2026).

Bupati Bondowoso Abd. Hamid Wahid dalam sambutannya menegaskan bahwa kehadiran akademisi nasional dan internasional merupakan momentum strategis untuk mempercepat pembangunan desa yang berkelanjutan.

Baca juga: https://ulas.co.id/bupati-bondowoso-lantik-15-pejabat-administrator-dan-pengawas-tekankan-profesionalisme-dan-optimalisasi-pbb/

“Bondowoso adalah bagian dari Ijen UNESCO Global Geopark dengan kekayaan geologi, biologi, dan budaya yang luar biasa. Melalui ICD 2021, kami ingin memastikan bahwa potensi alam, pertanian, dan budaya desa tidak hanya dilestarikan, tetapi juga memberi nilai tambah ekonomi bagi masyarakat,” ujar Bupati Hamid Wahid.

Bupati Bondowoso saat menandatangani perjanjian MoU bersama UNISA (foto dok: Yusi Ulas.co.id)

Ia menambahkan, fokus pembangunan Bondowoso saat ini diarahkan pada penguatan desa melalui tata kelola pemerintahan yang akuntabel, pemberdayaan petani, serta peningkatan literasi digital generasi muda agar mampu menembus pasar nasional hingga internasional.

Baca juga: https://ulas.co.id/kph-bondowoso-borong-penghargaan-di-innovation-award-2025-perhutani/

Unesa Dorong Tri Dharma Berdampak Nyata

Sementara itu, Rektor Universitas Negeri Surabaya, Prof. Dr. Bambang Sigit Widodo, menegaskan bahwa ICD 2021 merupakan wujud nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang berdampak langsung bagi masyarakat.

“Perguruan tinggi tidak boleh hanya berhenti pada riset dan publikasi. Melalui ICD, Unesa hadir di tengah masyarakat untuk mentransformasikan ilmu pengetahuan menjadi solusi konkret, khususnya di sektor pertanian, pariwisata, dan UMKM desa,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi internasional yang melibatkan akademisi dari enam negara sebagai sarana pertukaran pengetahuan, inovasi teknologi tepat guna, dan penguatan jejaring global bagi daerah.

Baca juga: https://ulas.co.id/kebakaran-rumah-di-desa-jatitamban-diduga-akibat-lampu-minyak/

Muhaimin Iskandar: Desa Kuat, Indonesia Berdaulat

Menteri Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar, yang hadir secara daring, menyampaikan apresiasinya atas sinergi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi dalam mendorong pembangunan berbasis desa.

“Pemberdayaan masyarakat harus dimulai dari desa. Ketika desa kuat secara ekonomi, sosial, dan budaya, maka Indonesia akan berdiri kokoh. Program seperti ICD ini sejalan dengan visi pemerintah dalam mewujudkan keadilan sosial dan kemandirian masyarakat,” ujar Muhaimin.

Ia berharap program ICD tidak berhenti sebagai agenda seremonial, melainkan melahirkan model pemberdayaan desa yang berkelanjutan dan dapat direplikasi di daerah lain.

Bondowoso Republik Kopi dan Laboratorium Alam Dunia.

Dalam kegiatan ini, para delegasi internasional juga diperkenalkan dengan berbagai potensi unggulan Bondowoso, mulai dari fenomena Blue Fire Kawah Ijen, situs megalitikum terbesar di Indonesia, hingga sektor pertanian unggulan seperti kopi Arabika Ijen–Raung yang telah mengantongi sertifikat Indikasi Geografis dan dikenal dengan branding “Bondowoso Republik Kopi”.

Melalui ICD 2026, Bondowoso menargetkan terjadinya transfer pengetahuan, inovasi berkelanjutan, serta promosi daerah ke tingkat global, dengan harapan para delegasi internasional dapat menjadi duta yang mengenalkan Bondowoso ke dunia.

Penulis: Redaksi

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *