Bondowoso Matangkan Persiapan Pra Revalidasi UNESCO Global Geopark, Seluruh OPD dan Stakeholder Dikerahkan

Sekda Bondowoso bersama Kepala Bapperida dan kepala Disparpora Bondowoso saat usai rapat koordinasi pra revalidasi dan revalidasi UNESCO ijen geopark 2026 (foto dok: Yusi Ulas.co.id)
Bondowoso, ulas.co.id – Pemerintah Kabupaten Bondowoso terus mematangkan persiapan menghadapi pra revalidasi dan revalidasi UNESCO Global Geopark (UGG) Ijen. Seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) pengampu bersama berbagai pemangku kepentingan dikumpulkan dalam rapat koordinasi yang digelar di Aula Sabha Bina Praja, Sekretariat Pemerintah Kabupaten Bondowoso, Jumat (10/7/2026).
Rapat dipimpin oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Bondowoso Fathur Rozi dan dihadiri Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (BAPPERIDA) Bondowoso Anisatul Hamidah, Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Bondowoso Gede Budi Setiawan, serta perwakilan Perhutani, BKSDA Jawa Timur, PTPN, Medco, dan tim teknis Ijen Geopark.
Sekda Bondowoso, Fathur Rozi, menegaskan seluruh dokumen administrasi, sarana prasarana, hingga bukti pendukung (evidence) harus dipastikan siap sebelum tim asesor UNESCO melakukan pra revalidasi pada 16 Juli 2026, dilanjutkan revalidasi pada awal Agustus mendatang.
“Pra revalidasi insya Allah tanggal 16 Juli, kemudian revalidasi pada awal Agustus. Karena itu seluruh dokumen, sarana prasarana fisik, hingga berbagai evidence harus dicek kembali. Kita ingin memastikan semuanya benar-benar siap,” ujarnya.
Menurut Fathur, dari hasil evaluasi masih terdapat sejumlah catatan kecil yang harus segera diselesaikan. Mulai dari perbaikan fasilitas, kebersihan lokasi geosite, kondisi infrastruktur, hingga kelengkapan pendukung lainnya.
“Masih ada beberapa hal kecil yang perlu dilengkapi. Misalnya ada genteng yang rusak karena monyet, kemudian fasilitas seperti toilet, akses jalan, dan infrastruktur lainnya harus dipastikan dalam kondisi baik. Kita masih memiliki waktu sekitar satu bulan untuk menyempurnakan semuanya,” katanya.
Ia berharap seluruh pihak dapat bekerja bersama agar Ijen Geopark tetap mempertahankan status sebagai bagian dari UNESCO Global Geopark.
“Kita berharap Ijen Geopark tetap menjadi bagian dari UNESCO Global Geopark. Itu menjadi target bersama yang harus kita perjuangkan,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala BAPPERIDA Bondowoso, Anisatul Hamidah, menjelaskan rapat koordinasi tersebut bertujuan memastikan seluruh perangkat daerah dan stakeholder memahami tugas masing-masing dalam menghadapi proses penilaian UNESCO.
“Kita ingin memastikan siapa melakukan apa. Selain itu kita juga mengecek lokasi-lokasi yang akan menjadi titik kunjungan asesor, sehingga apabila masih ada kekurangan bisa segera kita sempurnakan,” jelasnya.
Anisatul mengungkapkan, persiapan administrasi sebenarnya telah dilakukan sejak satu tahun terakhir dengan pendampingan dari Kementerian Pariwisata, Bappenas, Bappeda Provinsi Jawa Timur, Dinas Pariwisata Jawa Timur, hingga tim Ijen Geopark Banyuwangi.
“Seluruh dokumen dan dosier telah dipersiapkan sejak tahun lalu. Setiap ada kekurangan langsung kita lengkapi sedikit demi sedikit. Alhamdulillah untuk hal-hal yang bersifat krusial insya Allah sudah siap,” ujarnya.
Menurutnya, penguatan yang masih perlu dilakukan adalah meningkatkan partisipasi masyarakat serta pelaku usaha di kawasan geopark agar semakin memahami manfaat keberadaan UNESCO Global Geopark.
Ia juga menjelaskan bahwa edukasi geopark kini telah mulai diterapkan di sekolah melalui program Geopark Goes to School dan School Goes to Geopark. Materi mengenai Ijen Geopark bahkan telah dimasukkan ke dalam literatur pembelajaran sebagai bagian dari pengenalan potensi wisata Bondowoso.
“Kita ingin anak-anak memiliki pemahaman tentang geopark sejak dini. Geopark bukan hanya soal geologi, tetapi juga mencakup biosite dan culture site yang semuanya harus memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat,” ungkapnya.
Anisatul menambahkan, pengelolaan Ijen Geopark dilakukan melalui tim pengelola yang diketuai Sekda Bondowoso dengan dukungan tim teknis yang bertugas memastikan kesiapan seluruh lokasi geosite.
Di kesempatan yang sama, Kepala Disparpora Bondowoso, Gede Budi Setiawan, mengatakan pihaknya segera menyusun dua tahapan timeline persiapan, yakni menjelang pra revalidasi dan menjelang revalidasi UNESCO.
“Kita membuat timeline yang jelas, siapa berbuat apa. Ada timeline sebelum pra revalidasi dan timeline menjelang revalidasi agar seluruh pekerjaan dapat terukur dan selesai tepat waktu,” katanya.
Menurut Gede, keberhasilan mempertahankan status UNESCO Global Geopark bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah, tetapi juga membutuhkan kolaborasi seluruh pihak, termasuk instansi vertikal seperti Perhutani, BKSDA, PTPN, hingga Medco.
“Kita optimalkan sinergi semua pihak agar cita-cita Pemerintah Kabupaten Bondowoso mempertahankan status UNESCO Global Geopark dapat terwujud,” ujarnya.
Lebih jauh, Gede menegaskan keberadaan UNESCO Global Geopark harus mampu memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. Salah satunya melalui pengembangan pariwisata berbasis masyarakat, pelatihan bagi pemuda, hingga pengembangan produk unggulan seperti kopi beserta produk turunannya di kawasan Ijen.
“Harapannya geopark bukan hanya soal pengakuan internasional, tetapi benar-benar membuka peluang ekonomi, menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan kualitas pariwisata, dan menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat Bondowoso,” pungkasnya.
Penulis: Redaksi


