Ketua DPRD Bondowoso Tekankan Persaudaraan dan Transparansi Antar Kepala Desa

Ketua DPRD Bondowoso didampingi Ketua DPC PKDI saat usai rapat pengukuhan (foto dok: Yusi Ulas.co.id)

Bondowoso, Ulas.co.id – Ketua DPRD Bondowoso, H. Ahmad Dhafir, menegaskan pentingnya memperkuat persaudaraan dan kebersamaan antar kepala desa sebagai fondasi utama dalam membangun pemerintahan desa yang harmonis dan dipercaya masyarakat.

Menurutnya, persaudaraan tidak hanya dimaknai secara simbolik, tetapi harus diwujudkan dalam sikap saling mendukung dan merasakan. “Kalau satu kepala desa merasakan kesulitan, maka yang lain juga harus ikut merasakan. Begitu juga saat ada yang berhasil, kebahagiaan itu harus dirasakan bersama,” ujarnya. Kamis (8/1/2026( sat usai hadiri pengukuhan PKDI.

Baca juga: https://ulas.co.id/bapenda-bondowoso-dorong-optimalisasi-pad-lewat-penghapusan-biaya-administrasi-dan-digitalisasi-retribusi/

H. Ahmad Dhafir juga menekankan peran organisasi atau paguyuban kepala desa (PKD) sebagai mediator dan fasilitator komunikasi antar kepala desa. Ia menilai, komunikasi yang baik akan mencegah munculnya ketidakharmonisan serta memperkuat sinergi dalam menjalankan roda pemerintahan desa.

Selain itu, ia menyoroti pentingnya transparansi pengelolaan keuangan desa.

Selama ini, kata dia, masih ada anggapan di masyarakat bahwa dana desa selalu mencapai lebih dari satu miliar rupiah, padahal kenyataannya jumlah dana yang diterima desa sangat bervariasi dan sebagian hanya berkisar antara Rp200 juta hingga Rp370 juta.

Baca juga: https://ulas.co.id/dprd-dan-pemkab-bondowoso-sepakati-dua-raperda-strategis-bupati-abdul-hamid-wahid-tegaskan-penguatan-fiskal-dan-demokrasi-desa/

Untuk menghindari kesalahpahaman tersebut, ia mendorong pemerintah desa agar memaksimalkan papan pengumuman APBDes yang memuat sumber dan penggunaan anggaran desa.

“Masyarakat harus tahu dari mana sumber anggaran dan digunakan untuk apa. Dengan keterbukaan, kepercayaan akan tumbuh,” tegasnya.

Baca juga: https://ulas.co.id/sinung-sudrajat-pdi-perjuangan-siap-bersinergi-perkuat-budaya-dan-jadi-mitra-strategis-pembangunan-bondowoso/

Ia mengakui bahwa tidak semua niat baik selalu dipahami dengan baik oleh masyarakat. Namun demikian, kepala desa sebagai pelayan publik harus siap menerima kritik dan koreksi.

“Namanya pelayan, harus siap dikritik dan dikoreksi. Yang penting kritik itu bersifat membangun,” tambahnya.

Lebih lanjut, H. Ahmad Dhafir mengingatkan bahwa kebersamaan tidak berarti berjalan sendiri-sendiri. Dalam keberagaman organisasi dan asosiasi kepala desa yang ada, kebersamaan justru terwujud melalui sikap saling melengkapi dan saling menguatkan.

Baca juga: https://ulas.co.id/perhutani-kph-bondowoso-laporkan-dugaan-pengrusakan-tegakan-hutan-di-petak-6a3-ke-polres-situbondo/

“Kalau sendirian, itu bukan kebersamaan. Kebersamaan adalah tentang berjalan bersama, saling melengkapi, dan menjaga persaudaraan,” pungkasnya.

Penulis: Redaksi

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *