Pemecah Rekor H. Ahmad Dhafir Kembali Dilantik Sebagai Ketua DPRD Bondowoso

H. Ahmad Dhafir saat dilantik sebagai Ketua DPRD Kabupaten Bondowoso bersama tiga wakil ketua DPRD Bondowoso Imam Kholid Andi Wijaya, Adi Kriesna, Sinung Sudrajat (foto dok: YUSI Ulas.co.id)

Bondowoso, Ulas.co.id – H. Ahmad Dhafir Menjadi pemecah rekor kembali dilantik sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bondowoso definitif periode 2024-2029.

H. Ahmad Dhafir merupakan politisi berlatar belakang santri, saat ini ia menjadi Ketua DPC PKB Bondowoso dan lima periode berturut-turut sebagai Ketua DPRD Kabupaten Bondowoso.

Hingga tahun 2024, Ketua DPC PKB Bondowoso ini sudah 32 tahun sebagai legislator. Karirnya sebagai anggota DPRD dimulai sejak tahun 1992.

Dia memecahkan rekor tak kalah dengan mantan presiden Soeharto dalam menjabat sebagai anggota DPRD.

Dia memiliki latar belakang sebagai santri. Dia menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan mulai Tahun 1973 hingga tahun 1980.

Semenjak partai politik basutan Gus Dur di Bondowoso ini dipimpin oleh H. Ahmad Dhafir, perolehan kursi di DPRD terus bertambah.

H. Ahmad Dhafir dilantik bersama Tiga nama pimpinan DPRD Kabupaten Bondowoso lain (Ady Kreisna, Imam Kholid Andi Wijaya, dan Sinung Sudrajad).

Adapun Lima periode jabatan ketua DPRD secara berturut-turut tersebut periode 2004-2009, periode 2009-2014, 2014-2019, periode 2019-2024 dan periode 2024-2029.

Usai dilantik sebagai Ketua DPRD Kabupaten Bondowoso, H. Ahmad Dhafir mengatakan, dengan dilantiknya kembali menjadi Ketua DPRD Bondowoso di periode yang ke Lima, bertepatan dengan momen hari santri nasional diharapkan menjadi penyemangat untuk terus mengabdi dan bertanggung jawab pada bangsa dan negara.
“Khususnya di Kabupaten Bondowoso,” ujarnya. Selasa (22/10/2024) bertempat di Aula gedung DPRD setempat.

Menurutnya, hari santri tidak hanya sekedar kegiatan upacara dan seremonial, tapi mengenang para perjuangan santri yang pada waktu itu berjuang dan berperang mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) saat penjajah melakukan agresi ke dua.

“Saat itu banyak santri yang gugur ketika berjuang. Korban-korban santri yang gugur saat berjuang menjadi penyemangat saya di DPRD Bondowoso, bahwa cita-cita santri yang berjuang mempertahankan kemerdekaan menjadi penyemangat supaya bertanggung jawab menjaganya hasil perjuangan kaum santri,” ungkapnya.

Ia juga mengatakan bahwa cita-cita santri yang telah berjuang mempertahankan NKRI.

“Pada saat ini mudah-mudahan menjadi penyemangat Lima tahun kedepan sebagai Ketua DPRD Bondowoso memperjuangkan kesejahteraan masyarakat,” terangnya.

Lanjut H. Ahmad Dhafir, peringatan hari santri ini bukan hanya sekedar kegiatan seremonial dan sektarian, tapi merupakn bukti keterlibatan santri untuk mempertahankan NKRI saat terjadi agresi militer penjajah ke dua di Surabaya, menuju perang 10 November.

Ahmad Dhafir berharap, pengukuhan sebagai Ketua DPRD Bondowoso ini menjadikan dirinya semakin bersemangat untuk bertanggung jawab terhadap bangsa dan negara khususnya di Bondowoso.

Di momen peringatan HSN 2024 ini, pihaknya menegaskan bahwa Hari Santri Nasional bukan hanya sekedar seremonial upacara. Terpenting adalah bagaimana mengenang serta memaknai perjuangan santri dan ulama yang ikut berperang mempertahankan NKRI saat penjajah melakukan agresi kedua.

“Banyak santri yang jadi korban. Santri-santri yang jadi korban ini menjadi semangat saya untuk berjuang bersama kawan-kawan di DPR,” jelasnya.

Ia juga menegaskan, bahwa kemerdekaan yang ada saat ini juga tidak lepas dari perjuangan para santri yang ikut mempertahankan negara ini.

Oleh karena itu, santri harus mengisi kemerdekaan ini bukan hanya duduk manis menikmati kemerdekaan yang diperjuangkan dengan tumpahan darah para pejuang.

“Mudah-mudahan ini menjadi penyemangat kami dalam bekerja lima tahun ke depan,” harap dia.

Peringatan Hari Santri itu bukan hanya untuk santri, lebih lanjut Ahmad Dhafir. Tapi untuk menggelorakan semangat resolusi jihad yang dikumandangkan KH Hasyim Asy’ari untuk melawan penjajahan terhadap bangsa ini.

“Santri saat itu berada di garda terdepan atau perintah kiai melalui resolusi jihad yang ditandatangani Kiai Hasyim Asy’ari wajib angkat senjata. Mereka berjuang dan ribuan jadi korban,” paparnya.

Semangat juang yang akan menjadi penyemangat dia dalam bekerja. Tentu dalam bekerja dirinya mematuhi perintah para ulama.

“Karena Indonesia merdeka bukan hanya perjuangan Bung Karno Bung Hatta, tapi juga keterlibatan para ulama,” kata Ahmad Dhafir

Hari Santri Nasional tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 yang ditandatangani Presiden Jokowi pada 15 Oktober 2015.

Hari Santri Nasional diperingati setiap Tanggal 22 Oktober. Sementara HSN 2024 mengusung tema “Menyambung Juang Merengkuh Masa Depan”. (Yus)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *