Pemkab Bondowoso Melalui Dispendik Perkuat Pelestarian Tari Remo Sutinah Lewat Dunia Pendidikan

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bondowoso Taufan Restuanto saat usai acara (foto dok: Yusi Ulas.co.id)
Bondowoso, Ulas.co.id – Pemerintah Kabupaten Bondowoso melalui Dinas Pendidikan terus berupaya menjaga dan melestarikan warisan budaya daerah. Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah penguatan kembali Tari Remo Sutinah, tarian khas Bondowoso yang sarat nilai sejarah, filosofi kehidupan, dan identitas masyarakat lokal.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bondowoso, Taufan Restuanto, menegaskan bahwa Tari Remo Sutinah memiliki kekhasan yang membedakannya dari Tari Remo di daerah lain. Karena itu, tarian ini perlu terus dikenalkan dan diwariskan kepada generasi muda.
Baca juga: https://ulas.co.id/perhutani-kph-bondowoso-cek-kesiapan-sarana-produksi-kayu-dan-getah-pinus-tahun-2026/
“Tari Remo Sutinah adalah identitas budaya Bondowoso. Di dalamnya ada cerita sejarah dan nilai-nilai kehidupan masyarakat. Karena penciptanya sudah wafat, maka menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menjaga keberlanjutannya,” ujar Taufan, Kamis (15/1/2026).
Tari Remo Sutinah merupakan karya almarhum Sutinah, seniman lokal Bondowoso yang dikenal memiliki kepekaan tinggi terhadap realitas sosial masyarakat pada masanya. Berangkat dari pengembangan Tari Remo, Sutinah menuangkan pengalaman batin serta pengamatan sosialnya ke dalam rangkaian gerak, irama, dan ekspresi tari yang mencerminkan perjuangan, keteguhan, dan dinamika kehidupan masyarakat Bondowoso.
Baca juga: https://ulas.co.id/wakil-ketua-komisi-i-dprd-bondowoso-soroti-lambannya-sk-bupati-hingga-polemik-paw-kades/
Baca juga: https://ulas.co.id/edufair-ke-3-bondowoso-dorong-akses-pendidikan-tinggi-dan-peningkatan-ipm/
Menurut Taufan, nilai-nilai tersebut menjadikan Tari Remo Sutinah bukan sekadar seni pertunjukan, tetapi juga media pendidikan karakter dan pemahaman sejarah lokal.
“Ini bukan hanya soal gerak tari, tetapi tentang makna, filosofi, dan pengalaman hidup masyarakat Bondowoso yang dituangkan dalam seni. Anak-anak perlu memahami itu sejak dini,” jelasnya.
Sebagai langkah nyata pelestarian, Dinas Pendidikan Bondowoso menggandeng MGMP Seni Budaya SMP untuk mengintegrasikan Tari Remo Sutinah ke dalam proses pembelajaran. Sejak Desember 2025, materi tarian ini mulai diperkenalkan di sekolah-sekolah, sekaligus dilanjutkan dengan workshop bagi siswa SMP se-Kabupaten Bondowoso.
Baca juga: https://ulas.co.id/komisi-iii-dprd-bondowoso-dorong-percepatan-apbd-2026-dokumen-perencanaan-jadi-kunci-serapan-anggaran/
Baca juga: https://ulas.co.id/bupati-bondowoso-luncurkan-aplikasi-akselerasi-untuk-perkuat-akuntabilitas-kinerja-pemerintah-daerah/
Dalam kegiatan tersebut, setiap sekolah mengirimkan lima siswa yang didampingi guru seni budaya untuk mempelajari teknik dasar, ekspresi, serta filosofi Tari Remo Sutinah secara langsung. Hasil pembelajaran ini direncanakan akan dipentaskan secara kolosal pada peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026.
“Pelestarian budaya tidak cukup dengan teori. Harus ada praktik langsung. Anak-anak perlu mengalami dan merasakan budayanya sendiri agar tumbuh rasa memiliki,” tegas Taufan.
Baca juga: https://ulas.co.id/banjir-di-cermee-bondowoso-rusak-aspal-jalan-yang-baru-diperbaiki/
Baca juga: https://ulas.co.id/sekda-bondowoso-seleksi-open-bidding-di-11-opd-tetapkan-tiga-besar-terbaik-berbasis-kinerja-dan-akuntabilitas/
Melalui pendekatan pendidikan formal dan ruang ekspresi publik, Dinas Pendidikan Kabupaten Bondowoso berharap Tari Remo Sutinah tetap hidup, berkembang, dan terus diwariskan lintas generasi sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas kultural Bondowoso.







