Tingkatkan Kapasitas Kelembagaan dan Kualitas Produksi Petani, DPKP Bondowoso Gelar Pelatihan Budidaya Tembakau

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan didampingi Kabid Penyuluhan pertanian, Komisi II DPRD Bondowoso H. Tohari serta dari Dinas ketenagakerjaan Bondowoso saat gelar pelatihan Budidaya Tembakau (foto dok: Ulas.co.id)
Bondowoso, Ulas.co.id – Pemerintah Kabupaten Bondowoso melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) menggelar pelatihan budidaya tembakau untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan dan kualitas produksi petani. Kegiatan ini berlangsung di Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Tapen dan melibatkan petani dari seluruh desa di wilayah tersebut, Senin (07/07/2026).
Kegiatan ini diikuti oleh puluhan petani tembakau yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Bondowoso, bersama dengan penyuluh dari BPP Gunung Anyar dan petugas penyuluh lapangan (PPL). Pelatihan tersebut bertujuan memberikan pemahaman teknis tentang cara budidaya tembakau yang tepat di tengah tantangan cuaca yang tidak menentu.
Dalam sambutannya, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Bondowoso, Hendri Widotono menyampaikan, bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas dan daya saing tembakau Bondowoso. Ia menyebutkan bahwa musim tanam tahun ini penuh ketidakpastian karena curah hujan yang tinggi.
“Banyak petani yang terpaksa menanam ulang hingga ada yang empat kali tanam, tapi semangat mereka tetap luar biasa. Maka dari itu, pemerintah hadir di tengah-tengah mereka, memberi solusi melalui pelatihan dan bantuan pupuk gratis,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan, bahwa ke depan Pemerintah Kabupaten Bondowoso akan memberikan program asuransi gagal panen kepada petani tembakau. Program ini direncanakan akan mulai berjalan pada tahun 2026 sebagai bentuk perlindungan terhadap resiko usaha tani.

Sementara itu, Ketua Komisi II DPRD Bondowoso, H. Tohari turut hadir dalam kegiatan tersebut. Ia mengapresiasi pelatihan rutin yang terus dilakukan setiap tahun untuk meningkatkan pemahaman petani terhadap budidaya tembakau yang berkualitas.
Menurut Tohari, tantangan terbesar saat ini adalah perubahan cuaca yang menyebabkan banyak daun tembakau menjadi hitam dan tidak layak jual. Oleh karena itu, pelatihan kali ini menghadirkan APTI Bondowoso sebagai narasumber untuk membedah permasalahan dan solusi dari budidaya tembakau.
“Ini adalah momen penting untuk belajar bersama. Kita harus tahu cara menanam yang baik agar hasil tembakau tidak rusak karena hujan,” jelasnya.
Tohari juga menegaskan, bahwa menanam tembakau memiliki nilai ekonomi yang besar. Setiap batang rokok yang dikonsumsi masyarakat menyumbang pajak melalui cukai, dan hasil dari cukai tersebut akan kembali ke masyarakat dalam berbagai bentuk.
“Contohnya seperti bantuan handtraktor, perbaikan saluran irigasi, bantuan sosial, dan termasuk pelatihan seperti hari ini. Semua dibiayai dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT),” tambahnya.
Selain itu, dalam rangka perlindungan tenaga kerja, sebanyak 8.445 petani tembakau di Bondowoso telah didaftarkan dalam program BPJS Ketenagakerjaan. Biaya kepesertaan mereka ditanggung sepenuhnya oleh Pemerintah Kabupaten melalui dana DBHCHT.
Pelatihan budidaya tembakau ini diharapkan dapat menjadi titik balik bagi para petani untuk tetap bertahan di tengah tantangan cuaca yang ekstrem. Pemerintah Kabupaten Bondowoso menegaskan akan terus hadir dan mendukung petani demi terciptanya kesejahteraan bersama. (Yus)







