Stop Bullying! Dinsos P3AKB Bondowoso Gandeng LKP3A Ciptakan Sekolah Ramah Anak

Kepala Bidang PPPA Dinsos P3AKB Bondowoso saat berikan materi stop bullying di SMP Negeri 1 Jambesari (foto dok: Yusi Ulas.co.id)
Bondowoso, Ulas.co.id – Upaya pencegahan dan penanganan kasus perundungan (bullying) terus diperkuat oleh Dinas Sosial P3AKB Bondowoso melalui Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA). Selasa (03/03/2026) bertempat di SMP Negeri 1 Jambesari.
Kepala Bidang PPPA, Hafidhatullaily, menegaskan komitmennya untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan bebas dari kekerasan dengan menggandeng LKP3A.
Dalam keterangannya, Hafidhatullaily menyampaikan bahwa bullying merupakan perilaku agresif yang dilakukan secara berulang oleh individu atau kelompok terhadap anak yang dianggap lebih lemah, dengan tujuan merendahkan atau menyakiti. Menurutnya, tindakan ini tidak boleh dianggap sepele karena dapat menimbulkan dampak serius bagi tumbuh kembang anak.
“Bullying bukan hanya persoalan kenakalan biasa, tetapi bisa berdampak panjang terhadap kondisi psikologis dan masa depan anak,” ujarnya.
Dampak Serius bagi Korban
Ia menjelaskan, korban bullying berisiko mengalami isolasi sosial karena rasa takut dan malu, sehingga cenderung menarik diri dari pergaulan. Selain itu, korban juga kerap mengalami gangguan konsentrasi di kelas yang berdampak pada penurunan prestasi akademik.
Lebih lanjut Laily, dampak psikologis seperti kecemasan, depresi, hingga menurunnya rasa percaya diri juga sering dialami korban. Bahkan, dalam jangka panjang, anak dapat mengalami gangguan kesehatan mental seperti Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). Tidak jarang pula muncul keluhan fisik akibat tekanan mental, seperti sakit kepala dan insomnia.
Kenali Tanda-Tandanya
Melalui kerja sama dengan LKP3A, Dinsos P3AKB Bondowoso juga mendorong guru dan orang tua untuk lebih peka terhadap tanda-tanda anak yang menjadi korban bullying. Perubahan perilaku dari aktif menjadi pendiam atau cemas, penurunan nilai akademik, hingga keengganan berangkat ke sekolah menjadi indikator yang perlu diwaspadai.

Kabid PPPA Dinsos P3AKB Bondowoso Hafidhatullaily saat memaparkan kepada siswa stop bullying (foto dok: Yusi Ulas.co.id)
Kolaborasi ini diwujudkan dalam bentuk sosialisasi, edukasi, serta pendampingan bagi anak dan keluarga yang terdampak. Hafidhatullaily menegaskan bahwa pencegahan harus dilakukan secara bersama-sama, melibatkan sekolah, orang tua, dan masyarakat.
“Kita semua adalah teman. Tidak boleh ada kekerasan dalam bentuk apa pun di lingkungan pendidikan. Anak-anak berhak merasa aman dan dihargai,” tegasnya.
Dengan sinergi antara pemerintah daerah dan lembaga perlindungan anak, diharapkan kasus bullying di Bondowoso dapat ditekan dan tercipta generasi yang sehat, percaya diri, serta berkarakter kuat.
Penulis: Redaksi







